BSD City vs Bintaro Jaya

BSD City (BSD) vs Bintaro Jaya (Binjay)

Luas: 6000 ha vs 2321 ha (BSD kota terbesar, karena meliputi kawasan industri, pergudangan, CBD dan pemukiman)
Penduduk: 100.000? vs 75.000 jiwa? (belum ada data pasti)
Tahun berdiri: 1989 vs 1970-an (Binjay kota satelit pertama)
Developer: Sinar Mas vs Pemda DKI + Ciputra (BSD punya modal lebih kuat)
Sekolah unggulan: Sanur, Al Azhar vs Global, Highscope, Al Azhar
Rumah sakit: RS Medika BSD vs RS International Bintaro (Binjay lebih baik, BSD jelas akan menyusul)
Tol: BSD vs Pondok Aren, (Binjay lebih dekat, BSD lebih banyak)
Image: BSD kota baru, banyak hiburan, lebih happening vs Binjay lebih adem, konservatif, lebih mahal

Sumber:
properti.net
peringkat kota-kota baru

Komentar:
Sebenarnya agak sulit membandingkan BSD dan Binjay, tergantung dibandingkan pada kelas apa? rumah tipe kecil, tipe menengah, harga berapa? tapi apapun itu, apa pendapat anda tentang dua kompleks perumahan terbesar ini.

Ditulis dalam Tangerang. 89 Comments »

89 Tanggapan to “BSD City vs Bintaro Jaya”

  1. anggara Says:

    kalau saya sih senang di BSD, karena krl serpong berangkat pertamanya dari serpong, pasti dapat tempat duduk.

    • Lowongan Kerja Says:

      Sebuah perusahaan berskala nasional membutuhkan segera 10 orang Promotion Staff untuk penempatan di Bintaro Jaya, dengan syarat-syarat sebagai berikut:
      – Pria / Wanita
      – Minimal D3 atau lulusan SMK Pariwisata
      – Penampilan menarik, ramah, supel, pandai bergaul
      – Memiliki banyak relasi
      – Menguasai komputer, internet, Microsoft Office
      – Jika pria diharapkan memiliki SIM A dan dapat
      mengemudikan mobil dengan baik.

      Lamaran kerja dan CV dikirim lewat email ke:
      lowongankerja.palingbaru@gmail.com

  2. Kang Tutur Says:

    lagi…lagi…
    Salam Nusantara!
    Kami mencari Penerima Beasiswa Wirausaha!
    Mohon izin, numpang “kapling”
    Matur Nuwun…..!

  3. 9uBr4K5 Says:

    Kalau aku lebih pilih BSD karena lalu lintas menuju Binjay sekarang maced ! Huehehehe…

    Btw, berapa sekarang KPR di BSD? Apa punya info? 🙂

    *salam kenal*

    Thx

  4. n0vri Says:

    Tetep pilih Bijay, toh kalo mau ke BSD dari kawsana perkantoran (Sudirman, Thamrin, Rasuna Said, TB Simatupang) juga lewat tol Pondok Indah – Bintaro…

    *pembelaan penghuni Binjay* 😀

    • almadhany Says:

      Novri,
      jika ada keluarga, sahabat atau kolega yg mau kontrak rumah atau beli rumah, aku mau menyewakan di GRAHA BINTARO GR5 en kalo ada yg baru mau punya mobil .. aku mau jual HONDA CITY 2003 HITAM, MANUAL … 0818 61 8282

  5. Onay Says:

    Setelah survei ke Binjay (Oriana, Vania Permata) dan BSD (Latinos Patagonia), saya pilih BSD. Untuk kelas yang sama, menengah ringan (versi WBA 🙂 ) tipe <80/120, harga dan kualitas bangunan menurut saya BSD lebih OK.

    • almadhany Says:

      onay,

      jika ada keluarga, sahabat atau kolega yg mau kontrak rumah atau beli rumah, aku mau menyewakan di GRAHA BINTARO GR5 en kalo ada yg baru mau punya mobil .. aku mau jual HONDA CITY 2003 HITAM, MANUAL … 0818 61 8282

  6. Kaze Says:

    Kalo kerja di Jakpus (sekitar Gambir), enakan tinggal dimana ya? Binjay atau BSD? Mohon info dari rekan-rekan yang punya pengalaman. Gracias!

  7. ryev4 Says:

    Klu Dibandingin Dua2nya Gw Pasti Pilih Dua Tempat Tersebut, Gw Ude Punya Di Binjay Tinggal Nyari Yang BSDnya, Tapi Klu Masalah Kuliah Pilih Saja STIE Tunas Nusantara, Selain Sarana N Prasarana Ok, Ada Beasiswa Pula, Yang Bintaro Jurangmangu Itu Cabangnya, Jadi Bagi Rekan2 Bintaro KLu Mo Bisa Ambil Yang Bintaronya, Oke Kha….n? Buruan Peserta Terbatas.

  8. johnherf Says:

    BSD City bukan versus Bintaro Jaya, melainkan mitra setia. Keduanya saling melengkapi. Bergotong royong dalam akses jalan tol, bekerja sama dalam akses perkeretaapian. Oleh karena itu, BSD City selalu menjadi teman setia yang mesra bersama Bintaro Jaya.

    Pembanding untuk versus dengan BSD City tampaknya tidak tepat dengan Bintaro Jaya, apalagi mengingat berdasarkan nilai jual objek pajak Bintaro Jaya lebih rendah kalau pembandingnya BSD City.

  9. priandoyo Says:

    BSD City NJOPnya lebih besar? oh gitu ya hehehe. Tergantung tipe dan lokasinya kali pak John. Rumah saya di Permata kalau dibandingkan dengan BSD yang sekelas tentunya, NJOPnya lebih bagus di BinJay tuh. Saya sudah survey lho. Makanya tergantung tipe mana, tapi kalau setingkat saya yakin BinJay lebih bagus.

  10. aRie oRanGe Says:

    kalo gw lebih pilih bintaro jaya secara gw tinggal di situ hehehe, sektor dua , lebih adem, aman kalo mau ngajak jalan2 anak ke taman deket rumah, begitu

    * pencinta binjay *

  11. Rimar Says:

    Anjar saya ikut nimbrung ya…dgn perspektif beda

    Dulu saya tinggal di sektor 2 (pelikan) kurang lebih 3 tahun, pd saat itu tol belum buka, macet, status masih kontrak dgn alasan sebagian gaji ditabung utk DP rumah.

    Kalau akses ke Jkt (Sudirman) costnya lebih kecil karena tidak lewat tol tapi waktu tempuh lebih lama karena keluar dari bintaro kena 2 lampu merah (lewat veteran/deplu)

    Kalau soal sekolah, BSD punya banyak pilihan dari TK s/d SMA, mau yg internasional ada, mau yg lokal ada, mau yg berlatar belakang keagamaan jg ada, tapi uang sekolahnya lebih tinggi dari jkt.

    Mau beli rumah second di Bintaro setelah nabung 3 tahun, cuma bisa dapet luas tanah 120m (tahun 2004) sementara di BSD dgn harga yg sama dapet tanah 200m.

    Jadi strategi saya, cari kerja yg dekat tol TB simatupang dan uang bensin + tol ditanggung perushaan.

    Tuhan yg baik kabulkan doa saya sehingga saya kerja didekat jalan tol TB simatupang s/d sekarang

    + Kenaikan tanah di BSD kedepannya pasti lebih pesat dari Bintaro karna lahan yg dibangun ”baru” sekitar 30% regardless NJOP yg bervariasi tergantung lokasi dan luas tanahnya.

    Summary:
    Buat yg kerja di sudirman, seri, sama-sama bisa naik kereta atawa busway. Yg tidak naik kereta, BIntaro, karena cost perhari pasti lebih hemat.

    Yg fokusnya ke investasi, BSD, karena lahan yg baru dibagun masih dibawah 50% belum jenuh.

    Yg fokus kesekolah, 50-50, tergantung fokus kita ke keluarga konsepnya apa, kalau saya lebih ke international school BSD, lebih banyak pilihan.

    Yg gembul & suka jajan, Seri, di Sektor 9 vs Pasar Modern sama-sama enak

    Kesimpulan: ????

    Salam
    Penghuni BSD ex Binjay 2

  12. andi Says:

    Soal kwalitas rumah kayaknya di BSD perlu dipertimbangkan soalnya kmarin disorot di DE latinos De RIo banyak rumah yang kayunya dimakan kumbang rumah -rumah disitu harganya 500jt hingga 1m……

  13. Perumahan terbaik di Jakarta versi Bicararumah « Anjar Priandoyo is Lifeauditor Says:

    […] di Cibubur, Citra Grand vs Cibubur Country (26 comments). Survey, Cibubur Country (13 comments). Terbaik di Tangerang, BSD City vs Bintaro Jaya (12 comments). Perbandingan di Pamulang Tangerang, Puri Bali vs Villa Inti Persada (46 comments). Terbaik di […]

  14. Angel Says:

    Tergantung kerja di mana, saat ini saya lebih milih tinggal di Bintaro soalnya biaya ke Jkt masih lebih murah.

  15. Kiabi Says:

    Wah saya sanggupnya baru punya rumah di Depok.
    walau ngga ‘ngomplek’, tapi masih murah banget pajaknya, bangunan bagus [bangunan masih murah, premannya juga masih murah :P], kalau itung2 jarak, sama kaya punya Rumah di Sektor 3 (ditarik dari kantor)… harga, jelas sepertiganya… he he [tanah 500 m].
    syaratnya cuma satu, itu nafsu jalan2, makan2, plesiran Jakarta pas wekend ditahan dulu ^_^ [nabung buat S2].

    -Eks’ yg 24 tahun tinggal di Bintaro, dari semak2 jadi perumahan elit-

  16. Anne Says:

    Nah loo……sekarang saya jadi tambah bingung,kalo untuk invest, mending beli rumah jadi type 36 / 45 di bsd atau tanah penduduk yang masih berupa kebun/sawah? Siapa tau…., kalau lagi hoki, bisa dilirik developer buat disulap jadi perumahan………Ngomong2, ada yang tau nggak ya, daerah mana di Tangerang yang bisa berkembang? (Curug, sewan, sempatan,dll….pusiinggg dech)

  17. adi Says:

    adisatriablekstil@gmail.com
    aloo sodara-sodara…
    minta saran dong
    sekarang saya sekeluarga tinggal di Villa mutiara serpong di pondok jagung , serpong utara, (deket nya sama graha bintaro + villa melati mas..hik2 malu nih nyebut2 perumahan elitnya).
    kerja di gatot subroto. Dulu pertimbangan beli di sini karena alesan klasik (murah..) walopun tau ini hasil karya developer ecek2 (pt ISPI) keliatan dari kualitas bangunan , dah gitu kemarin pebruari sempet nyicipin banjir juga.
    alhamdulillah sekarang penghasilan naik (saya + istri) sekitar 15 jt-an se-bulan). aku lagi mikir mending ngutang buat rehab atawa cari perumahah baru lagi? ceritanya sekarang mo peningkatan kualitas hidup gituu..kalo masalah lokasi pengennya bintaro , BSD atawa Cibubur.
    tunggangan saat ini masih bebek. Menurut temen2 gimana..?

  18. NOTARIS ALOYSIUS (aloysius-lawoffice.com) Says:

    Untuk temen-teman sy mau ikut kasih input soal bintaro vs bsd.

    Kebetulan sy tinggal di bintaro sejak thn 88. Mulai dari sektor 4. Pindah ke sektor 9, th 93. Skrng jadi kantor. Rumah pindah ke BSD Giri Loka1 tahun 2005. Tahun 93-97 sy Kepala Legal Dept PT BSD. Stlh itu saya jadi Legal Head di PT Duta Pertiwi Tbk.(holding Sinar Mas Group untuk property biz). Sebagai Notaris PPAT, saya hanya fokus untuk kawasan bsd dan bintaro. Jadi sehari-hari bertemu dengan calon pembeli di kawasan ini.

    – waktu sy putuskan pindah rumah tinggal ke bsd. Berat sekali rasanya. Karena sudah sangat betah di bintaro jaya. Tetangga baik, teman teman lama, keluarga besar, teman gereja dll. Pertimbangan berikutnya, saya harus berkantor di mana? BSD atau bintaro?

    – Suasana/demografis: Bintaro suasana jakarta selatan. Type penduduknya seperti Pondok Indah/Kby Baru/Jakarta Selatan. Heterogen. Lebih banyak profesional, artist, wartawan, pejabat negara (tapi dg daya beli yang sedikit lebih rendah – tapi calon meningkat dengan cepat). Sekali tinggal di Bintaro, males sekali pindah ke daerah lain. BSD: lebih seperti di Jakarta Utara/Barat. Banyak pedagang/investor; kecuali Latinos type penduduknya mirip bintaro. Master plan/jalanan bsd lebih rapi jauh dari Bintaro.

    – cuaca: Bintaro lebih sejuk. Mungkin karena masih banyak kampung disekitarnya. BSD, lebih panas. Terutama jam 11-15

    – Pekerjaan: Untuk saya lebih cocok melayani client Bintaro/Jakarta Selatan. Mereka lebih butuh pelayanan yang baik. Kalau untuk lapangan kerja, dua duanya sudah sangat banyak peluang untuk karyawan/profesional yang mau kerja/usaha dekat rumah. Mungkin juga karena tingkat pertumbuhan penduduk Kab. Tangerang adalah tertinggi se Indonesia, dibandingkan kabupaten lain di sekeliling kota kota Metropolitan Indonesia

    Preman?: daerah BSD adalah “sang pelopornya” :). Tetapi Bintaro 9 ke belakang (graha dst) sudah ketularan. Tapi secara umum penduduk bintaro jaya lebih berani melawan preman.

    – Sekolah: sama sama bagus. Dr tk s/d univ. lewat tol, jarak/waktu tidak jadi soal

    – Harga: secara umum Bintaro kelihatannya lebih mahal

    – Investasi: Lebih baik di BSD. Karena banyak properti komersial, pedagang. Proyek masih panjang, cadangan tanah masih sangat banyak. Bintaro jauh lebih enak buat tinggal/hunian; mudah cari pengontrak rumah.

    – Mutu bangunan: pada umumnya BSD lebih baik. Tapi kalau bisa milih, untuk dua duanya lebih baik kita bangun sendiri. Jadi beli tanah saja. Atau beli bangunan baru yg dibuat oleh bukan dev ybs

    – banjir?: BSD lebih sedikit daerah yang terkena banjir

    – Customer Services / After Sales dr Dev nya: dari input client2 saya/complaint media massa, BSD kelihatannya jauh lebih baik

    – Jarak/akses kendaraan umum ke jakarta: sama bagus. Untuk kereta api, Bintaro jaya lebih baik: terutama yang lokasinya dekat st. sudimara

    Kesimpulan:

    tergantung type/culture calon pembelinya dan budget. Idealnya punya property didua duanya :)). Alternatif lain yang juga sangat baik: dev dev perorangan/kecil yang bangun di “sela sela” BSD dan Bintaro. Harga lumayan murah + bisa “nebeng” fasilitas kedua kota baru ini. Tapi kualitas lingkungan/penduduknya dan prestise-nya kelihatannya tetap jauh lebih kuat bintaro bsd. Shg untuk jual kembali juga jauh lebih mudah. fyi: Cukup banyak dev perorangan yang juga bangun rumah baru di dalam bsd dan bintaro untuk di jual.

    Mungkin strategi yang lebih baik: tetap diusahakan beli rumah di dalam bsd/bintaro yang semurah mungkin sesuai budget. setelah mampu, pindah ke rumah lain yang lebih besar di bintaro/bsd.

    Salam.

    – nb: mohon maaf krn kesibukan saya tidak bisa selalu jawab/balas email. Mungkin kalau mau , kapan kapan kita ngumpul bareng dengan teman teman penduduk di Bintaro. Kita bisa sharing lebih banyak info.

  19. Joko Says:

    Haloo …
    Ada yang bisa share price list rumah di BSD city ? Soalnya di website BSD City engga ada. Kalau kita tinggal di BSD dan kerja di Kuningan, kendaraan umum apa saja yang tersedia (bus, shuttle bus, kereta).
    Thanks

  20. kania Says:

    basbin dong… basis bintaro…
    hehehe keluar gak perlu naik tol bayar 6rb. hahaha

  21. bobcat Says:

    Bintaro dan BSD mirip dari segi fasilitas dan akses.
    Mo lihat review perumahan Bintaro, BSD dan sekitarnya, silakan ke: http://bobcatreviewpro.blogspot.com
    Thanks.

  22. Jaka Says:

    Hallo..

    Rekan2 semua, saya lagi cari rumah di bsd atau serpong, tp mungkin bisa kasih info untuk shutle bus (trans BSD) apakah ada tmepat untuk penyimpanan motor atau mobil…
    karena lokasi kantor saya didaerah thamrin dan blm punya mobil…hehe..

    thx

  23. shella Says:

    Aku baru beli rumah di BSD – Sevilla, menurutku BSD bagus kok konstruksi bangunannya, rumah jadinya udah siap langsung dipakai. Kemarin liat2 rumah contohnya di De Latinos, duh bikin ngiler hehehe….

    Kalo Bintaro, kayanya udah gak ada rumah baru kan? dan aku taunya Bintaro harganya mahal2, walau gak ngecek juga sih kesana, krn udah jatuh cinta sama BSD 😀

  24. enrico Says:

    gw sich pilih BSD dong soalnya gw kerja di GARUDA jadi deket,,tp ini lagi nyari rumahnya!kira2 berapa yach KPR di BSD,ada yg punya informasi ga?? tq

  25. Justo Says:

    sama nih sama shella, baru aja ambil di BSD – Sevilla (tetanggaan donk…) BSD kualitas bangunan ok, pengerjaan juga lumayan rapi, akses ke pusat niaga ato fasilitas umum juga lumayan (mungkin akan bertambah ke depannya), variasi model tampak depan rumah tiap cluster juga lebih banyak dan menarik kayanya. Cuma ga tau kalo pembangunan k depannya banyak mengorbankan ruang hijau, pasti akan lebih sumpek dan kemungkinan banjir ato kerusakan fasilitas umum lebih besar (mudah2an engga ya…)
    Bintaro emang kayanya lebih adem, lebih tenang, tapi pilihan perumahan apa banyak juga? Akhir2 ini launching perumahan yang menengah k atas harga 1-2 M nih. Bersaing juga dgn BSD yg launching menengah k atas tapi dengan kisaran harga yang lebih rendah (500 jt – 2M)

  26. Khoe seng seng Says:

    Saya Seng Seng, saya adalah salah satu pembeli produk Sinar Mas Group (kios di ITC Mangga Dua) yang membangun BSD City. Saya tidak akan lagi mau membeli produk-produk Sinar Mas Group karena pengalaman saya dengan group ini sangat buruk.

    Saya membeli property group ini melalui anak perusahaannya yaitu PT Duta Pertiwi Tbk sebuah kios di ITC Mangga Dua. Saya tidak membeli langsung ke PT Duta Pertiwi Tbk saya membeli melalui lelang Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) tetapi sungguh sial ternyata tanah tempat berdirinya gedung ITC Mangga Dua adalah milik Pemprov DKI Jakarta yang baru saya tahu ketika akan memperpanjang Hak Guna Bangunan (HGB) gedung ITC Mangga Dua.

    Kemudian saya menanyakan ke kuasanya (karyawan Sinar Mas Group) yang didudukan sebagai ketua Perhimpunan Penghuni (PP) ITC Mangga Dua yang mana dari 3 dokumen yang saya miliki yang menunjukkan bahwa tanah di ITC Mangga Dua adalah milik Pemprov DKI Jakarta (3 dokumen yang saya miliki adalah Izin Mendirikan Bangunan, Akta Jual Beli dan Sertifikat Hak milik Satuan Rumah Susun)?. Kuasa perusahaan ini tidak bisa menjawab dia hanya mengatakan memang sejak awal sudah milik Pemprov DKI Jakarta.

    Saya tidak puas dengan jawaban tersebut kemudian saya mengirimkan Surat Pembaca ke harian Kompas dan dimuat tanggal 26 September 2006 dengan judul “DUTA PERTIWI BOHONG” isinya kurang lebih menceritakan ketidak jujuran perusahaan ini waktu menjual produk propertynya dan saya menanyakan siapa yang mesti saya gugat ( Badan Pertanahan Nasional, Pemprov DKI Jakarta, PT Duta Pertiwi Tbk). Hampir 2 bulan kemudian saya juga mengirimkan surat pembaca ke harian Suara Pembaruan. Isinya mengenai denda Rp. 100.000-, per hari yang dikenakan ke pembeli kios-kios ITC Mangga Dua jika tidak mau membayar uang perpanjangan ke Pemprov DKI Jakarta. Yang mengancam denda ini adalah karyawan dari Sinar Mas Group yang didudukan sebagai pengurus Perhimpnan Penghuni ITC Mangga Dua Surat Pembaca ini dimuat tanggal 21 November 2006. Surat Pembaca saya di harian Kompas ini kemudian dibantah oleh pihak PT Duta Pertiwi Tbk dan Surat Pembaca saya di harian Suara Pembaruan dibantah oleh Divisi Real Estate Sinar Mas Group.

    Tidak puas dengan bantahan ini Sinar Mas Group kemudian melaporkan saya ke MABES POLRI dengan dakwaan penghinaan, pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan. Saya dipanggil langsung sebagai TERSANGKA bukan saksi terlebih dahulu. Azas praduga tak bersalah tidak berlaku disini.

    Tidak berhasil di MABES POLRI untuk menahan saya kemudian Sinar Mas Group ini menggugat saya di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Dasar gugatan adalah Surat Pembaca dan laporan polisi saya yang di hentikan peyidikannya (SP3) oleh Polda Metro Jaya (saya laporkan kasus dugaan penipuan oleh Sinar Mas Group ini ke Polda Metro Jaya pada tanggal 15 November 2006) . Nilai Gugatan ini Rp 17 miliar. Benar-benar luar biasa Sinar Mas Group ini dimana ingin menyita kios dan rumah orang tua saya.

    Perusahaan yang patut diduga telah menipu kami ribuan konsumennya malah ingin menyita harta benda milik konsumennya. Apa kira-kira pendapat pembaca terhadap perusahaan Sinar Mas Group ini.

    Disini saya katakan bukan saya saja yang dilaporkan ke Mabes Polri masih ada 2 orang lagi dimana kedua orang ini menulis surat pembaca mengenai produk property dari Sinar Mas Group ini yaitu Apartemen Mangga Dua Court dan ITC Roxy Mas. Kedua orang ini juga dilaporkan ke Mabes Polri sebagai TERSANGKA langsung sama seperti saya dan kedua orang ini juga digugat dengan nilai Rp 17 miliar dan Rp 11 miliar.

    Bukan hanya kami bertiga yang digugat masih ada 16 orang lagi yang digugat. Ke 16 orang ini digugat karena laporan mereka ke Polda Metro Jaya yang dihentikan penyidikannya. Laporan ini mengenai tanah bersama yang mereka bersama-sama beli ternyata adalah tanah Pemprov DKI Jakarta. Jadi patut diduga Sinar Mas Group telah menipu kami semua. Mereka masing-masing digugat sebesar Rp 11 miliar – Rp 17 miliar. Gugatan di Pengadilan adalah gugatan perbuatan melawan hukum berkaitan penghinaan (pencemaran nama baik).

    Yang saya tulis dalam surat pembaca dan laporkan ke Polda Metro Jaya adalah kenyataan yang saya dan ribuan konsumen lainnya alami bukan cerita bohong atau isapan jempol belaka. Inilah kenyataan yang kami alami sekarang, betapa hebatnya group perusahaan ini melakukan tindakan intimidasi kekonsumennya.

    Beberapa bulan yang lalu ada komplain warga dari BSD City mengenai atap rumah yang kayunya dimakan rayap melalui surat pembaca yang dimuat dibeberapa Media massa. Apakah Warga tersebut juga dilaporkan polisi dengan pasal pencemaran nama baik? Kami sebenarnya ingin tahu kelanjutan komplain warga tersebut tapi berhubung kami sendiri sekarang lagi sibuk menghadapi gugatan dan pemeriksaan di Mabes Polri kami tidak sempat mencari tahu kelanjutan komplain warga BSD City tersebut.

    Bukan hanya komplain di BSD city yang saya baca di Surat Pembaca ada juga komplain dari warga perumahan Banjar Wijaya yang juga dibangun oleh Sinar Mas group dan saya juga membaca di Surat Pembaca komplain pemegang polis asuransi Sinar Mas. Apakah semua orang yang mengkomplain ini dilaporkan ke pihak yang berwaajib dan digugat di Pengadilan Negeri?

    Demikianlah pengalaman kami dengan Sinar Mas Group. Tidak ada maksud saya mendiskreditkan Sinar Mas Group ini tapi inilah yang terjadi sekarang dan tanah Pemprov DKI Jakarta yang dijual bukan hanya di ITC Mangga Dua tetapi hampir 30 hektar lahan di Mangga Dua Raya yang meliputi Wisma Eka Jiwa, Mall Mangga Dua, Ruko Bahan Bangunan, Ruko Tekstil, Dusit Mangga Dua dan Apartemen Mangga Dua Court. Serta setahu saya ada juga perkara tanah di BSD dengan seseorang yang bernama Bapak RUSLI dimana perkara ini sudah lebih dari 10 tahun belum selesai-selesai.

    Inilah informasi yang saya dapat beritahukan kepada segenap pembaca sekalian semoga informasi ini berguna bagi segenap pembaca. Jadi BSD City atau Bintaro Jaya berpulang kembali ke segenap pembaca sekalian. untuk menentukan pilihan.

  27. Dons Says:

    Mas dan Mbak,

    Saya lagi mencari rumah seken di BSD nih. Kira2 pada tau ga ya berapa harga pasar rumah2 di Patagonia (126/87) ato di Buenos Aires (128/90). Soalnya mo nego ma broker nih, jadi butuh senjata 🙂

    Terima kasih

  28. Ritz Says:

    Menurut hemat saya, bagi para insan usia muda alangkah lebih bijak untuk kita memilih hunian yang tidak jauh dari tempat kerja / aktivitas kita. Mengingat akan efisiensi dalam segala hal…Saya memilih BINTARO krn selain tidak jauh dari tempat aktivitas saya n’ BINTARO masih terhitung lebih dekat dengan Jakarta dibandingkan BSD. Mengenai FASUM+FASOS yang ada, semua kembali kepada kita…Apakah kita mo terlena dengan menikmati semua fasilitas yang ada setiap ‘weekend’? Sementara ‘Mon-Fri’, kita harus menghadapi ke-stress-an yg luar biasa dikarenakan jarak tempuh plus tingkat kemacetan yang tinggi untuk hanya sekedar menuju tempat kerja kita? It’s all up to you…

  29. alexander Says:

    mungkin pertimbangan fasilitas umum penting juga, maksudnya sekolah, lingkungan sekitar selain tempat kerja penting juga.

    Yg paling enak perumahan yg paling deket dengan tempat kerja dg fasilitas yg bagus buat keluarga.

  30. onta Says:

    ada yg tahu info price cluster baru BSDCity Green Cove ????

  31. Yos@ABI Says:

    Mo BSD or BinJay, sama aja. Mahal. 🙂
    Tapi saya mungkin (terpaksa) ke BSD, karena ukuran “kantong pundi-2” cuma bisa ke sana.
    Kalo mau bandingin, ya antar BSD+BinJay, dengan Bekasi dan Depok (antar kompleks. kalo perumahan umum, ga usah. ceritanya beda tuch.) Dulu pernah ada tabloid yang membandingkan real estate (duch, susah amat ngetik istilah ini..) dari 3 wilayah, Depok – Bekasi – JakBar/Tangerang. Ternyata dari tingkat kemacetan, Depok no. 1 (paling macet), kemudian Bekasi dan yg terakhir Tangerang. (gak tau dah yang nulis orang mana, mungkin tinggal di Tangerang yak ?)
    Kalo “kantong pundi-2” nya mencukupi, saya sich kepengennya beli rumah yang ga jauh dari kantor (terjauh adalah Lenteng Agung, dari Sudirman atau Kuningan. abis itu ditarik garis untuk membuat lingkaran batas, sebagai radius.) Tapi apa daya, dunia & akhirat bukan milik saya….. ihik ihik ihik….

  32. investor Says:

    bisa jadi depok, bekasi, trakhir tangerang yg paling macet. karena setahu sy, bekasi pertumbuhannya lebih pesat ktimbang tangerang. di bekasi byk rumah ready stock, sedangkan tangerang indent dulu. depok mnurut saya apes, karena di daerah selatan masih belum berkembang, masih banyak desa, mngkin itu membuat pemda jadi malas bikin infrastruktur penunjang (perlebar jalan). plus konsep nya ancur, keliatan dari ruas jalan depok yang mencang mencong gak teratur gitu.

  33. tiara Says:

    Saya ingin minta saran.
    Kantor saya di Thamrin, dan saya ingin membeli rumah antara di Bintaro atau Alfa Indah (Joglo). Kalo dari sisi jarak dan waktu ke kantor lebih dekat/cepat dari Joglo, tapi dari sisi lingkungan tampaknya Bintaro lebih baik karena kompleksnya lebih besar. Bagaimana dari sisi investasi atau masa depan?

  34. anurese Says:

    saya punya sodara di joglo, daerah larangan persisnya. kesan saya sih, daerah sana cukup (maaf) kumuh dan kayaknya planning jalan nya mencang mencong di sana, gak teratur, jauh lah klo dibandingkan sama bintaro yg tertata apik.
    mnurut saya, joglo dan bintaro sama dekatnya ke jakarta. klo bintaro anda tinggal keluar di jalan RC Veteran, lurus aja, ntar nyampe ke kebayoran lama, trus thamrin deh.
    joglo trmasuk daerah yg akan di bangun tol, jadi musti ati ati kalo milih lokasi di sana.
    kalo soal fasum fasos, joglo nebeng ke permata hijau (mall, apartment, dll), kalo bintaro didalam ada mall juga (kurang bagus mnurut saya) atau lari nya ke pondok indah atau plaza senayan.

  35. mr.toesoek Says:

    hai….ada tempat makan baru lho di bsd city…. dateng yah ke pasar modern bsd city

  36. Cheris Says:

    Comment to Dons wrote on 27/03/08, yg lagi cari rmh 2nd di BSD..kemarin saya jg survey ke BSD dan kebetulan ada agency yg nawarin rumah 2nd di Patagonia tipe 126/87..buka harga dilevel 470jt n negotiable tuh, kalo mau nanya2 silakan hubungi Erna (Citra Property) di no. 021-9958 4054 or 0815 9034 704..sy jg ditawarin yg di Brazilian Flamingo tipe 112/89..utk informasi lebih lanjut silahkan contact langsung ya!

  37. arbie Says:

    Kalo dilihat dari situs marketingnya, Binjay bisa diakses dengan KRL Express. Info dong, naiknya dari mana ya? Sudirmara? Terus, dari Binjay-nya ke Sudimara naik apa? Mahagony atau Permata kelihatannya cukup jauh dari Sudimara soale…

    Thx

  38. Winy Says:

    Sebenernya kalo dari Bintaro yg deket itu stasiun Pondok Ranji. Tapi kalo tinggalnya di Mahagoni/Permata (sektor 9 ke belakang) lebih deket ke stasiun Sudimara (jombang). Angkotnya ada tuh yg ke Jombang dari jalan raya Pd Aren. Tapi kalo dari Mahagoni-nya musti ngojek dulu or naik angkot Pd Jagung dulu ke jalan raya Pd Aren itu (rada jarang nih kayaknya angkotnya, mending ojek kali, 5 menit nyampe). Udah gitu musti lebih pagi jalannya karena biasanya suka macet tuh di pasar jombangnya.

  39. dRe Says:

    Hi teman2.. Saya juga bingung banget nih buat memutuskan mau beli rumah yang mana..
    Budget saya sekarang kurang lebih 200jt. Untuk di daerah BSD, saya lebih memilih untuk ngambil diluar area BSD yaitu di suatu cluster yg lebih kecil bernama Serpong Park. ALasannya karena dengan budget segitu, rumah yang available di BSD adalah di sektor 1 yang merupakan bangunan pertama yang dikembangka pihak developer sehingga unur bangunan sudah cukup tua; serta menurut saya lingkungan sekitar (maaf) agak kumuh. Lokasi pemukiman ini adalah tepat di belakang BSD Plaza, kurang lebih 600m dari Air Mancur BSD. Lingkungan cukup baik dan memang dibangun dengan range type 36 s/d 120. Mereka membagun perumahan dengan system cluster untuk bloknya, jadi kemanan kompleks lebih baik.
    Untuk di daerah Bintaro, mungkin dengan budget segitu bisa mengambil disekitar Althia atau Mahagoni. Tetapi akses kendaraan untuk mencapai perumaha tersebut sangatlah jauh dan cukup menghabiskan waktu.

    Apa teman2 punya pandangan lain?

  40. anurese Says:

    kalo bujet nya di bawah 200 juta, mendingan beli rumah/tanah di luar kompleks aja sekalian deh (kalo saya loh), jadi bisa dapat yg lebih luas dan lebih megah bangunan nya. harga2x di dalam kompleks itu sudah di mark up (anda disuruh beli infrastruktur didalamnya juga), makanya NJOP nya kompleks ama yg bukan kompleks bisa beda jauh. kalo worry soal keamanan di luar kompleks, sewa satpam saja, seorang sebulan gaji nya di daerah sana sekitar RP 500.000 kok, 2 shift jadi Rp 1 juta sebulan anggarannya, aman dah. ATAU ajak sodara atau siapa aja jadi penghuni disitu, yg penting rumah gak dalam keadaan kosong, selalu ada orangnya.

  41. khoe Seng Seng Says:

    Saya hanya ingin melanjutkan komentar saya beberapa bulan lalu dimana saya telah menceritakan saya telah digugat oleh Sinar Mas Group mengenai kasus tanah di ITC Mangga Dua yang semula saya dan ribuan pembeli dari Sinar Mas Group yakini milik Sinar Mas Group dengan status HGB ternyata 18 tahun kemudian ketika akan diperpanjang HGB nya baru diketahui status tanah tersebut adalah HPL Pemprov DKI Jakarta dan saya kemudian diputus bersalah oleh Majelis Hakim yang mengadili saya dan Majelis Hakim ini menghukum saya harus membayar 1 miliar rupiah tunai ke pihak Sinar Mas Group

    Dalam putusannya Majelis Hakim ini mengatakan saya telah melanggar hak subyektif penggugat (Sinar Mas Group) dengan menulis 2 buah surat pembaca di harian KOMPAS dan SUARA PEMBARUAN. Saya dikatakan telah menyerang kehormatan dan nama baik Sinar Mas Group. Padahal para saksi fakta yang saya datangkan ke persidangan dan memberi keterangan dibawah sumpah mengatakan bahwa apa yang tertulis dalam surat pembaca saya adalah fakta kejadian yang mereka alami dan ribuan pemilik property yang membeli dari Sinar Mas Group. Jadi surat pembaca saya bukan merupakan fitnah tapi kenyataan yang saya dan ribuan pembeli property Sinar Mas Group alami. Apakah menurut para pembaca menceritakan apa yang terjadi dan dialami ribuan konsumen dalam surat pembaca merupakan suatu penghinaan? Apa yang saya tulis dalam surat pembaca saya semua ada bukti tertulisnya dan saya sudah ajukan didepan sidang tetapi Majelis Hakim yang mengadili saya sama sekali tidak mempertimbangkan bukti-bukti dan saksi-saksi saya. Bukti yang saya masukan adalah bukti autentik yaitu IMB, AJB dan Sertifikat Hak Milik Satuan Rumah Susun yang tidak ada sama sekali keterangan mengenai HPL Pemprov DKI Jakarta. Dan menurut Pakar Hukum Agraria yang menyusun UUPA 1960 bapak Prof Boedi Harsono guru besar Trisakti sertifikat yang saya tunjukan pada beliau, beliau mengatakan sertifikat ini status tanahnya adalah HGB diatas tanah negara bukan diatas HPL karena tidak ada data mengenai HPL didalam sertifikat saya.

    Jika ditanyakan ke pembeli-pembeli asli property Sinar Mas Group di area Mangga Dua apakah Sinar Mas Group mempunyai kehormatan dan nama baik, saya yakin sekali jawabannya tidak. Kenapa saya katakan tidak karena sekarang ribuan pembeli ini merasa mereka telah dicurangi pada waktu membeli property Sinar Mas Group ini dimana tidak diberitahu mengenai status tanah yang HPL Pemprov DKI Jakarta diarea Mangga Dua pada saat membeli property Sinar Mas Group ini. Jika mereka diberitahu kemungkinan ada dua mereka tetap membeli tetapi dengan harga murah karena tanahnya bukan milik developer atau tidak membeli sama sekali.

    Di blog ini saya hanya ingin sharing dengan pembaca untuk bersikap lebih berhati-hati jika ingin berhubungan dengan Sinar Mas Group, jangan sampai mengalami hal seperti yang saya alami, komplain produknya melalui karyawannya tidak dilayani kemudian saya menulis surat pembaca yang akhirnya saya dilaporkan ke Mabes Polri (posisi Sinar Mas Group lebih hebat dari Presiden RI dimana ketika Presiden diduga dicemarkan nama baiknya hanya melapor ke Polda sedang saya dilaporkan ke Mabes) dan digugat di pengadilan negeri Jakarta Utara..

    Apa yang saya ceritakan disini adalah kisah nyata saya menghadapi konglomerat nomer 3 di Indonesia yang sangat tidak tersentuh hukum karena laporan saya dan rekan-rekan saya ke Polda mengenai dugaan penipuan yang kemudian di SP3 kan dimana dasar SP3 inilah teman-teman saya juga digugat di Pengadilan Negeri Jakarta Utara dan beruntung semua rekan saya dibebaskan hanya saya dan satu teman saya saja yang dikalahkan. Yang mengalahkan saya dan teman saya ini satu Majelis Hakim. Majelis Hakim ini menangani perkara saya dan teman saya sedang 14 perkara yang lain (16 orang digugat, ada 16 gugatan) diputus bebas oleh Majelis-majelis Hakim yang berbeda-beda.

    Demikian akhir kasus saya digugat Sinar Mas Group atas dasar surat pembaca yang saya kirim ke 2 media nasional yang mengakibatkan saya dihukum untuk membayar tunai 1 miliar rupiah.

    • andi barkoso Says:

      Pa hakim nya itu kena suap, bacok aja kepala hakimnya, gak ada pejabat yang bener, pejabat di Indonesia itu bangsat semua !

  42. H Wulur Says:

    Pak Khoe Seng Seng,

    saya prihatin mendengarkan kisah anda. Anda cukup terkenal di dunia cyber. Ketika saya mengetik nama anda di google ada ratusan entry yang muncul mengenai kasus anda. Ada banyak ketidakadilan di Indonesia, ketika konsumen berhadapan dengan grup besar. Tante saya sudah membeli lunas Apartemen Palazzo Kemayoran. Janji developer untuk serah terima di bulan Februari 2007 sampai sekarang tidak terpenuhi karena proyek tersebut belum rampung sampai saat ini dan tidak kelihatan kelanjutannya. Demikian pula teman saya yang sudah membeli lunas apartemen The View di Mega Glodok Kemayoran harus menggigit jari karena proyek tsb terlantar sampai saat ini. Konsumen tidak bisa berbuat apa-apa jika developer lari dari tanggung jawab, sedangkan jika konsumen terlambat membayar angsuran saja, maka konsumen tersebut akan segera dipenalti oleh developer.
    Di Eropa tempat saya dulu berdomisili, developer tidak boleh membangun property jika tidak mempunyai kapital yang cukup untuk menyelesaikannya. Sedangkan di Indonesia, banyak developer membangun property dengan modal pas2an bahkan dengan menggunakan uang konsumen sebagai kapital, sehingga jika sales plan mereka meleset, mereka akan kesulitan cash flow dan tidak dapat melanjutkan pembangunan.
    Prinsip saya dalam membeli property, saya selalu membeli property yang sudah ready. Memang akan lebih mahal, tapi saya terhindar dari resiko pembangunan yang macet.
    Saya sarankan bapak untuk mengekspose kasus bapak seluas mungkin, baik di media televisi, radio maupun cetak. Dengan demikian developer tidak akan sembarangan bertindak karena kasus tersebut telah tersebar luas dan diikuti oleh masyarakat. Jangan menyerah, minta bantuan Lembaga Konsumen Indonesia dan cari pengacara yang bagus dan berintegritas.

    • Welxon Says:

      Dear Wulur,

      Bolehkah saya tahu tante anda? ayah saya adalah salah satu korban Palazzo dan sekarang sedang mengumpulkan teman senasib untuk menuntut dikembalikannya aset keluarga kami.

      Terima kasih atas kebesaran hati anda untuk menolong kami.

      • Muhammad Hisyam Says:

        Halo semua,
        Saya juga salah satu korban dari developer apartemen palazzo, saya sudah bayar lunas unit saya dan tidak pernah terlambat bayar, tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan nasib unit saya. Ada yang sama nasibnya dengan saya.

      • Khoe Seng Seng Says:

        bagi yang tertimpa musibah coba minta bantuan Badan Perlindungan Konsumen Nasioanl ataupun ke Badan Perlindungan sengketa Konsumen kedua badan ini ada di kantor Kementrian Perdagangan di jalan Ridwan rais no 5 sebelah kantor PLN Gambir. Atau coba minta bantuan advokasi ke Asosiasi Perhimpunan Penghuni Rumah Susun Indonesia ( Aperssi) coba buka websitenya.

  43. Khoe Seng Seng Says:

    Terima kasih atas perhatian bapak terhadap kasus saya yang telah dipidanakan dan diperdatakan oleh Sinar Mas Group.

    Sebenarnya ada 19 gugatan yang dilakukan oleh Sinar Mas Group. Salah satunya adalah saya. Sedang 18 gugatan dibuat oleh Sinar Mas Group karena ke 18 orang ini masing-masing melapor ke Polda Metro Jaya karena tidak ada itikad baik dari Sinar Mas Group untuk duduk bersama menyelesaikan kasus yang patut kami duga telah menipu kami dengan cara menyembunyikan informasi mengenai tanah bersama ITC Mangga Dua pada saat menjual satuan rumah susun ITC Mangga Dua dimana sekitar 16 tahun kemudian baru diberitahu bahwa apa yang dibeli konsumennya 16 tahun yang lalu yang berupa tanah dan bangunan ternyata tanah tempat berdirinya gedung ITC Mangga Dua adalah milik (dalam penguasaan) Pemprov DKI Jakarta dengan status hak atas tanah HPL Pemprov DKI Jakarta. Kami menyatakan kami memebli tanah dan bangunan karena Sinar Mas Group sendiri telah memberikan pada kami Faktur Pajak sederhana yang menerangkan pembayaran atas Tanah dan pembayaran atas Bangunan serta PPN atas Tanah dan PPN atas Bangunan. Hal inilah yang kemudian kami laporkan ke Polda Metro Jaya dimana oleh pihak Polda kemudian dinyatakan ini kasus dugaan penipuan. Yang pertama menyatakan ini dugaan penipuan adalah Polda Metro Jaya. Polda menyatakan dugaan penipuan karena penerima laporan kami melihat dan membaca dokumen yang kami bawa berupa Izin Mendirikan Bangunan, Akta Jual Beli, Sertifikat Hak Milik Satuan Rumah Susun dan Faktur Pajak Sederhana yang dikeluarkan Sinar Mas Group yang tidak ada satupun data yang menerangkan bahwa tanah tempat berdirinya gedung ITC Mangga Dua milik Pemprov DKI Jakarta. Kesemua dokumen ini kemudian kami berikan dan serahkan sebagai barang bukti ke pihak Polda.

    Sungguh tidak saya duga kemudian pihak Polda menghentikan penyidikan kasus kami (SP3). Dan dengan dasar SP3 ini kemudian Sinar Mas Group menggugat kami yang melaporkan kasus dugaan penipuan ini dimana kami digugat dengan gugatan perbuatan melawan hukum berkaitan dengan penghinaan (pencemaran nama baik). Nilai gugatan ini antara 11 miliar sampai 17 miliar rupiah. Total nilai gugatan adalah 232 milar rupiah (19 gugatan).

    Sangking takutnya akan disita jamin tempat berdagang dan rumahnya, 3 orang dari kami akhirnya dengan sangat terpaksa menandatangani akta perdamaian yang saya nilai sangat sepihak tanpa ada timbal balik buat tiga orang yang menyatakan damai ini.

    Adapun isi dari akta perdamaian ini kurang lebih adalah sbb:
    – mengakui bahwa tanah ITC Mangga Dua memang sudah sejak dari awal diberitahu tanah Pemprov DKI Jakarta dengan status HPL
    – Mengaku bersalah dan bersedia menyatakan permohonan maaf dikoran.
    – Tidak boleh ikut teman-teman Fifi Tanang
    – Jika melanggar salah satu diatas bersedia membayar 5 miliar dan dituntut secara perdata dan pidana.

    Isi akta perdamaian ini saya ketahui karena akta perdamaian ini digunakan sebagai bukti di pengadilan bahwa memang kami mencemarkan nama baik Sinar Mas Group ini. Menurut saya ini sangat aneh karena ke 3 orang ini sendiri melapor ke Polda bahwa tanah nya tidak ada lagi sekarang yang berstatus Hak Guna Bangunan tetapi sekarang menjadi HPL, tapi di akta perdamaiannya menyatakan ini mereka sudah sejak dari awal mengetahui. Coba dibayangkan kalau mereka sudah tahu sejak dari awal HPL buat apa mereka susah-susah melapor ke Polda ini tentu ada sesuatu yang tidak beres dan lagi apa yang mereka dapatkan pada waktu menandatangani akta ini? Tidak ada keuntungan sama sekali buat 3 teman saya yang menandatangani akta ini.

    Sedang ke 16 orang yang lain (termasuk saya) tetap melakukan perlawanan dan pada bulan Maret sampai Juni 2008 akhirnya diputus pengadilan Jakarta Utara. Empat belas putusan memenangkan kami hanya dua putusan yang mengalahkan kami. Dan yang mengalahkan kami hanya satu Majelis Hakim. Majelis Hakim ini menangani perkara saya dan satu perkara teman saya. Saya dan teman saya, masing-masing dihukum 1 miliar dengan pertimbangan hukum yang ngawur dimana putusannya telah melanggar hukum acara perdata dan Undang-undang Pers.

    Saya menggunakan pengacara dari LBH Pers untuk membela saya dan teman saya dibela dari kantor Hukum Tarigan, Faridz & Partners. LBH Pers menangani dua kasus kami sedang Tarigan, Faridz & Partners menangani 9 kasus. Pengacara LBH Pers memenangkan satu gugatan teman saya yang digugat 11 miliar. Jawaban, duplik, bukti, saksi dan kesimpulan yang dibuat hampir sama seperti yang dibuat untuk saya. Saya dikalahkan kerena Majelis Hakim yang menangani saya tidak sama seperti Majelis Hakim yang menangani perkara teman saya. Begitu pula seperti kantor hukum Tarigan, Faridz & Partners yang menangani 9 kasus hanya kalah satu dan yang kalah itu Majelis Hakim nya sama seperti Majelis Hakim yang mengadili saya. Jadi satu Majelis Hakim ini menangani 2 perkara dimana kedua perkara tersebut telah memenangkan Sinar Mas Group.

    Kami masih beruntung karena tidak semua Majelis Hakim bertindak seperti Majelis Hakim yang mengalahkan kami karena didalam persidangan dan didalam gugatannya Sinar Mas group mendalilkan kerugian akibat dari laporan polisi dan Surat Pembaca saya dan teman saya. Dalil yang menyatakan Sinar Mas Group rugi tidak bisa dibuktikan didalam persidangan dan dalil kami mencemarkan nama baik melalui Surat Pembaca juga tidak bisa dibuktikan didalam persidangan bahkan kamilah yang bisa membuktikan bahwa kami telah menderita kerugian akibat dari tanah yang baru kami ketahui milik Pemprov DKI Jakarta dan kami juga membuktikan dipersidangan melalui saksi fakta kami yang memberikan keterangan dibawah sumpah bahwa apa yang kami tulis didalam surat pembaca adalah fakta kejadian bukan fitnah yang sekarang dialami ribuan konsumen Sinar Mas Group di area Mangga Dua. Tetapi semua keterangan yang diberikan baik saksi fakta kami maupun saksi ahli yang kami datangkan dari Dewan Pers sama sekali tidak dianggap oleh Majelis Hakim yang mengadili perkara saya dan teman saya.

    Saya dikalahkan oleh Majelis Hakim karena potongan-potongan kalimat yaitu yang diharian Kompas adalah judul surat Pembaca ‘Duta Pertiwi Bohong’ sedang di Suara Pembaruan adalah kalimat ‘Pemikiran saya, ini penipuan dan sudah saya laporkan ke Polda dan dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan’. padahal kedua potongan kalimat diatas tidak ada dalam surat pembaca asli saya (redaksi sudah menkoreksi tulisan saya)

    Jadi Bapak Wulur tidak perlulah saya mencari pengacara yang lebih baik dan berintegritas karena pengacara saya dari LBH Pers dan pengacara teman saya yang juga dikalahkan sudah baik dan berintegritas tinggi dan pengacara saya ini dijamin bebas suap dan dijamin tidak menginjak didua tempat hanya yang perlu diperhatikan adalah Majelis Hakim yang mengadili perkara.

    Sehebat apapun pengacara dan sesempurna apapun bukti serta saksi yang diajukan ke persidangan yang menentukan kemenangan bukan bukti, saksi dan pengacara tetapi Majelis Hakim lah yang menentukan kemenangan. Jika Majelis Hakim berpendapat bersebrangan dengan pengacara maka dikalahkanlah pengacara tersebut.

    Hal ini juga sudah saya uraikan pada pengacara saya dan pengacara teman saya dan mereka juga sudah tahu. Orang-orang diluar lingkungan kami mungkin beranggapan karena saya kalah berarti pengacara kami tidak kualifait. Pemikiran ini salah besar menurut saya (saya hampir setiap hari ke pengadilan selama setaun dari senen sampai kamis mengikuti sidang pengadilan kami digugat, 16 gugatan). Walaupun kami kalah bukan berarti pengacara kami bodoh tetapi kekalahan kami tidak ada hubungan dengan pengacara kami karena kekalahan kami disebabkan ada faktor x nya.

    Saya juga sudah ke YLKI tetapi karena ini sudah memasuki ranah hukum maka dikatakan YLKI tidak bisa membantu saya.

    Dan saya ucapakan selamat pada Sinar Mas Group yang dengan segala cara ingin membungkam saya tetapi belum berhasil membungkam saya walaupun sekarang saya mengalami kekalahan di pengadilan negeri Jakarta Utara. Saya sudah melaporkan putusan pengadilan negeri ini ke instansi-instansi pemerintah untuk mengevaluasi putusan ini karena didalam pertimbangan hukum Majelis Hakim yang mengadili saya bukti-bukti dan saksi-saksi saya dikatakan tidak menyangkal gugatan penggugat. Padahal secara jelas saksi saya menyatakan apa yang saya tulis bukan fitnah dan yang bertanggungjawab terhadap tulisan pembaca saya adalah penanggung jawab pers bukan penulis surat pembaca karena surat pembaca ini bisa dikoreksi oleh redaksi.

    Demikian tambahan informasi yang bisa saya berikan dan saya sekarang lagi menunggu proses banding saya. Dan yang sebenarnya dihina (difitnah/dicemarkan nama baiknya) adalah saya bukan Sinar Mas Group karena dalam persidangan saya telah membuktikan tulisan surat pembaca saya sedang Sinar Mas Group tidak bisa membuktikan bahwa tulisan didalam surat pembaca saya adalah fitnah.

    Saya sekarang sedang membuat memori banding. Semoga keadilan masih berpihak pada kebenaran. Inilah kisah nyata saya mencari setitik keadilan dimana kasus kenyataan tanah tempat kios saya berada adalah milik Pemprov DKI Jakarta yang sudah saya gugat juga di pengadilan negeri Jakarta Utara yang sialnya perkara saya menggugat Sinar Mas Group ditangani oleh Majelis Hakim yang memutus dan menghukum saya 1 miliar rupiah. Jadi Majelis Hakim ini menangani 3 perkara dua perkara kami digugat satu perkara kami menggugat dan seperti yang sudah saya uraikan diatas dua perkara sudah dikalahkan. Apakah perkara kami menggugat Sinar mas Group bisa dimenangkan?

  44. Farid Says:

    Memang banyak aspek pembandingnya tuk memilih lokasi rumah, setiap orang memiliki prioritas yg berbeda pula, dan klo menurut saya pribadi lebih memperhitung aspek berikut ini:
    1. Kawasannya bebas banjir (Sebagian Binjay kebanjiran waktu awal 2007 & 2008)
    2. Infrastruktur (BSD jalannya jauh lebih lebar dan masterplannya tertata rapih sedangkan Binjay mencar2, terhubung dgn 2 Jalan Tol, & KRL)
    2. Sport Centre ( BSD ada Golf, Ocean park, Club house, Hutan Kota)
    3. Shoping Centre ( BSD ada Carrefour, Makro, Giant, Pasar Modern, Plaza, ITC, Junction
    4. Tempat Ibadah ( Binjay lebih banyak)
    5. Akses menuju Tempat Strategis, seperti Downtown Jakarta & Bandara Soekarno Hatta ( BSD Lebih dekat, krn klo Tol Bandara terputus krn banjir, bisa lewat gerbang belakang Bandara, namun tuk menuju Downtown Jakarta, Binjay menang)
    6. Harga ( Dengan produk yg sama BSD lebih murah dibandingkan Binjay)
    7. Keamanan & Kenyamanan ( Keduanya hampir sama aman, krn sebagian besar sistem Cluster, namun lebih nyaman BSD dari segi lalu lintas, parkir,
    8. Penghijauan & Asri ( BSD Lebih banyak seperti Hutan Kota, The Green, Foresta, yg membuat penghuninya betah & nyaman tuk tinggal)

  45. anurese Says:

    kesimpulannya kalo mo beli properti hasil ‘lelang’ BPPN musti ekstra hati hati. or better yet, mending gak usah beli properti dagangan BPPN.

  46. Khoe Seng Seng Says:

    Bapak/Ibu Anurese yth.

    Kasus saya bukan kesalahan BPPN tetapi ini murni patut diduga pekerjaan Sinar Mas Group karena ini merupakan produk property Sinar Mas group dimana ada ribuan konsumen yang membeli langsung ke Sinar Mas Group juga mengalami hal yang sama seperti saya. Jadi disini jelas terlihat bukan BPPN yang membuat ini bermasalah tetapi memang patut diduga sudah sejak dari awal ini diset oleh Sinar Mas Group. Seperti yang saya ungkap dalam tulisan terdahulu ada dua kemungkinan yang akan dilakukan konsumen jika Sinar Mas Group memberitahu bahwa tanah tempat property yang dibangunnya adalah milik pihak ke tiga bukan murni miliknya yaitu membeli dengan harga murah (karena hanya membeli petak-petak kios yang dingding-dingdingnya dibatasi gypsum tanpa ada tanah bersama) atau tidak membeli sama sekali property ini.

    Disini saya tambahkan informasi lagi teman saya sudah menggugat Sinar Mas Group ini tapi gugatan teman saya ditolak didalam putusannya dikatakan kurang lebih kami lah yang ceroboh karena didalam sertifikat HMSRS ITC Mangga Dua katanya sudah ada keterangan mengenai kepemilikan tanah Pemprov DKI Jakarta ini dan kesaksian saya bersama 3 rekan saya mengenai kerugian akibat tanah yang kami ketahui belakangan dianggap tidak sah karena dikatakan kami telah menggugat dalam kasus yang sama diperkara yang lain (yang melakukan gugatan diperkara yang lain untuk kasus yang sama ini hanya saya dan satu teman saya yang lain, jadi masih ada dua teman saya yang lain yang tidak melakukan gugatan tetapi keterangan 2 teman saya yang tidak menggugat ini juga ikut dikatakan tidak sah).

    Yang menangani kasus teman saya ini adalah Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang nota bene seharusnya memutus secara bijak tetapi putusannya menurut saya sangat tidak adil, hampir sama seperti Majelis Hakim yang memutus saya bersalah dimana segala bukti dan saksi yang diajukan teman saya sama sekali tidak dipertimbangkan bahkan keterangan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang menyatakan tidak tahu bahwa tanah di ITC Mangga Dua adalah milik(dalam penguasaan) Pemprov DKI Jakarta tidak dipertimbangkan. Coba kita pikirkan bersama PPAT saja tidak tahu apa lagi kita sebagai pembeli yang awam mengenai surat-surat tanah dan bisa saya tambahkan juga disini, pejabat Badan Pertanahan Nasonal (BPN) juga tidak tahu tanah ITC Mangga Dua milik Pemprov DKI Jakarta (ini dapat dibuktikan dengan tidak membayarnya teman saya biaya rekomendasi pada saat teman saya ini membeli HMSRS nya dimana seharusnya teman saya ini membayar biaya rekomendasi sesuai dengan SK Gubernur no 122 tahun 2001 bab V pasal 7 mengenai uang pemasukan terhadap tanah-tanah dalam penguasaan Pemprov DKI Jakarta). Kedua pejabat ini saja (PPAT dan BPN) tidak tahu apa teman saya bisa lebih hebat dari kedua pejabat ini yang tiap hari menangani surat-surat pertanahan dan jika teman saya orang yang ceroboh lalu bagaimana dengan kedua pejabat yang berwenang ini, apa kedua pejabat ini tidak lebih-lebih hebat cerobohnya dari teman saya? Karena dokumen berupa sertifikat HMSRS ini sudah melalui verifikasi dua pejabat yang ahli dalam pertanahan ini dimana kedua pejabat ini juga tidak tahu bahwa tanah di Mangga Dua adalah milik Pemprov DKI Jakarta seperti yang saya uraikan diatas.

    Ada dua hal aneh yang diputus Ketua pengadilan ini yang pertama dinyatakan Sinar Mas Group telah mengikuti aturan hukum dan sesuai aturan dan kerugian yang kami alami yang sekarang harus membayar perpanjangan 16 kali lipat serta kerugian-kerugian lainnya dinyatakan dalam putusan adalah wajar karena kami sampai sekarang telah menguasai dan memanfaatkan kios-kios tersebut. Jadi wajar dan pantaslah kami membayar 16 kali lebih mahal karena perpanjangan HGB diatas HPL ini. Hal ini sungguh aneh menurut kami karena yang kami bayarkan waktu membeli kios/HMSRS bukan hanya bangunan nya saja tetapi kami juga membayar tanahnya (dapat kami buktikan dengan faktur pajak yang dikeluarkan sendiri oleh Sinar Mas Group yang diberikan kepada kami, didalam faktur pajak ini juga tertulis kami membayar Pajak Pertambahan Nilai untuk TANAH & BANGUNAN dan juga dapat dilihat dari Akta Jual Beli (AJB) yang salah satu obyek jual beli nya adalah TANAH BERSAMA dimana transaksi ini dilakukan dihadapan PPAT serta diberi materai sebagai pengesahan Akta ini). Seperti layaknya kami membeli rumah dimana tentu bangunan dan tanah lah yang dibeli dan dibayar bukan hanya bangunannya saja tanpa ada tanahnya. Adakah pengembang yang memasarkan rumah hanya bangunannya saja tanpa berikut tanah tempat berdirinya bangunan rumah? Tentu tanah yang kami bayarkan bukan sesuai dengan ukuran bangunan kami tapi dengan perbandingan proporsional karena ini adalah rumah susun. Yang anehnya tanah ini sekarang dinyatakan milik (dalam penguasaan) Pemprov DKI Jakarta. Apakah mungkin Pemprov DKI Jakarta bersama-sama dengan kami dikatakan memiliki secara bersama-sama tanah tempat bangunan ITC Mangga Dua berdiri (karena didalam AJB dan Faktur Pajak dinyatakan obyek jual beli berikut tanah yaitu TANAH BERSAMA)?

    Hal aneh yang kedua pada waktu saya dan 3 rekan saya menjadi saksi dipersidangan. pihak Sinar Mas Group sudah keberatan terhadap kami yang menjadi saksi karena Sinar Mas Group menyatakan kami sudah menggugat mereka juga untuk kasus yang sama diperkara yang lain tetapi Ketua Pengadilan menyatakan sah-sah saja kami untuk menjadi saksi diperkara ini karena kami tidak punya kepentingan diperkara ini dan juga tidak terlibat diperkara yang lagi berjalan ini. Jadi boleh saja kami menjadi saksi diperkara ini (Ketua Pengadilan sendiri yang menyatakan kami boleh memberikan kesaksian diperkara ini). Kemudian kami disumpah serta dimintakan keterangannya Tetapi apa yang diputus Majelis Hakim didalam putusannya sungguh sangat tidak sesuai dengan pernyataannya sendiri didalam sidang dimana kami dinyatakan tidak sah menjadi saksi seperti yang saya uraikan diatas. Seandainya kami tidak dibolehkan menjadi saksi buat apa kami disumpah dan diminta keterangannya. Ini jelas sekali terlihat pada waktu persidangan pembuktian. Majelis Hakim tidak menolak kami menjadi saksi dan juga tidak mengatakan kesaksian kami tidak sah. Kenapa dalam putusannya Majelis Hakim ini menyatakan sependapat dengan Sinar Mas Group bahwa kesaksian kami tidak dapat dipertimbangkan karena kami juga menggugat dalam kasus yang sama diperkara yang lain (perkara saya belum diputus padahal saya sudah setengah tahun lebih dulu menggugat dari pada teman saya yang menggugat ini).

    Dua hal aneh diataslah yang tertuang didalam putusan teman saya yang menggugat ini Sebenarnya ada satu hal lagi didalam putusan ini yang saling bertentangan juga dimana oleh Majelis hakim dikatakan teman saya telah dirugikan ini tertuang dalam pertimbangan hukum untuk eksepsi dari Sinar Mas Group mengenai salah gugat yang ditolak Majelis Hakim ini. Dinyatakan dalam pertimbangan putusannya Sinar Mas Group tidak boleh melepaskan dan mengalihkan tanggungjawab kepada BPN, walaupun BPN yang menerbitkan sertifikat HMSRS ini karena dasar terbitnya sertifikat HMSRS ini yang menimbulkkan kerugian terhadap teman saya adalah didasarkan pada surat-surat sebagai perlengkapan adminitrasi yang diterbitkan Sinar Mas Group pada saat dilakukan transaksi penjualan took-toko di ITC Mangga Dua antara teman saya dengan Sinar Mas Group.

    Inilah keterangan yang bisa saya tambahkan. Disatu sisi teman saya dinyatakan telah dirugikan tetapi disisi lain dinyatakan tidak terbukti dirugikan (teman saya dinyatakan tidak memerinci kerugian). Jadi menurut pertimbangan akhirnya gugatan teman saya ditolak untuk seluruhnya (putusan yang kontroversi).

    Disini bisa saya infokan juga mengenai kasus Sinar Mas Group yang membangun BSD City. Di BSD City ada kasus tanah di lokasi komplek Puspita Loka dimana tanah tersebut dalam sengketa antara Bapak Rusli Wahyudi dengan Sinar Mas Group. Perkara ini sudah diputus sampai kasasi. Di Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi bapak Rusli memenangkan perkara ini tetapi di kasasi bapak Rusli dikalahkan. Menurut bapak Rusli putusan kasasi yang mengalahkannya lokasi tanahnya bukan lokasi tanah miliknya yang sekarang dibangun komplek Puspita Loka tetapi dilokasi yang lain. Jadi putusan ini tidak akan bisa mengesekusi tanah milik bapak Rusli karena tanah milik bapak Rusli bukan tanah yang ditulis didalam putusan kasasi tersebut dan menurut bapak Rusli tanah yang dimenangkan Sinar Mas Group di pengadilan kasasi bukan di lokasi yang sekarang dibangun komplek Puspita Loka tetapi didaerah lain. Dan menurut bapak Rusli tanah yang disengketakan ini sudah direkonstruksi oleh BPN dimana BPN menyatakan tanah tempat berdirinya komplek Puspita Loka adalah milik Bapak Rusli. Saya tidak tahu mengenai kebenaran sengketa tanah ini tapi kalau saya lihat dari kejadian yang saya alami berperkara dengan Sinar Mas Group saya meyakini apa yang disampaikan bapak Rusli ke saya adalah benar adanya (kasus ini saya baca dari Surat Pembaca yang dimuat di harian Suara Pembaruan oleh bapak Rusli dimana kemudian dibantah oleh Sinar Mas Group dan hasil pembicaraan saya dengan bapak Rusli sendiri). Apa yang saya tulis mengenai kasus bapak Rusli ini tidak saya cross cek ke Sinar Mas Group karena saya bukan wartawan saya hanyalah korban dari Sinar Mas group yang mungkin juga bapak Rusli ini adalah salah satu korban dari Sinar Mas Group yang saya ajak sharing mengenai kelompok usaha Sinar Mas Group ini.

    Jadi saran saya jika ingin berhubungan dengan Sinar Mas Group mesti extra hati-hati. Mungkin pembaca beberapa bulan yang lalu pernah membaca berita dari KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) yang menghukum 5 operator telkom dimana salah satunya adalah milik Sinar Mas Group (SMART telkom). Padahal SMART telkom ini baru berdiri dan sudah mencoba belajar berbuat curang (setahu saya belum dua tahun). Beruntung SMART telkom ini tidak disuruh membayar kerugian karena dinyatakan belum mendapat keuntungan (baru belajar dibandingkan dengan operator-operator telpon yang lain).

    Ada lagi kasus mengenai asuransi milik Sinar Mas Group yaitu Asuransi Sinar Mas. Asuransi milik Sinar Mas ini walaupun sudah dikalahkan oleh putusan Pengadilan, tetap saja belum membayar ke nasabahnya. Nilai pertanggungan yang harus dibayar juga hanya sekitar 8 jutaan rupiah (asuransi kesehatan, mengenai biaya perawatan) ini saya baca dari majalah Forum terbitan sekitar 2 bulan yang lalu.

    Inilah potret kelompok perusahaan-perusahaan Sinar Mas Group. Semua yang saya tulis mengenai kelompok Sinar mas group saya peroleh dari media cetak yang berupa Koran dan majalah.

    Demikian yang bisa saya tanggapi atas tanggapan yang menyatakan ekstra hati-hati membeli melalui BPPN. Bukan ekstra hat-hati terhadap BPPN tapi ekstra hati-hati untuk berhubungan dengan Sinar Mas Group karena jika terjadi masalah kelompok perusahaan ini akan berusaha mencari seribu satu alasan untuk menghindari kewajibannya bahkan penegak hukum yang seharusnya membela kita yang menderita kerugian dari akibat tindakan Sinar Mas Group malah patut diduga diperalat untuk menghukum yang menderita kerugian seperti yang saya alami. Saya lah yang dikatakan mencemarkan nama baiknya melalui media cetak padahal yang saya ceritakan didalam media adalah fakta kejadian yang telah saya buktikan kebenarannya didepan sidang pengadilan (bukan fitnah). Sedang Sinar mas Group sendiri tidak bisa membantah apa yang saya tulis tetapi Hakim malah menghukum saya untuk membayar kerugian akibat saya dinyatakan mencemarkan nama baik Sinar Mas Group.

    Saran saya untuk selamat dan tidak mendapat kesulitan lebih baik menghindar dari kelompok perusahaan ini. Jika terpaksa sekali mesti berhubungan, mesti extra teliti dan hati-hati bacalah setiap perjanjian yang dibuat secara seksama jika tidak mengerti tanyakanlah pada pengacara atau siapapun yang mengerti untuk diminta bantuannya, ini dilakukan guna menghindari hal-hal buruk yang mungkin dapat terjadi dikemudian hari (Seperti yang ribuan konsumennya alami sekitar 16 tahun kemudian baru ribuan konsumen yang membeli property di Mangga Dua tahu bahwa tanah tempat bangunannya berdiri ternyata bukan milik Sinar Mas Group tetapi milik Pemprov DKI Jakarta dan ketika berperkara kami yang memiliki bukti yang kuat pun belum bisa memenangkan perkara malah diputus bersalah apalagi yang membuat perjanjian asal-asalan)

    Demikian keterangan yang bisa saya berikan semoga ada manfaatnya buat pembaca sekalian.

  47. Archie Says:

    Saya butuh saran nih, baru pindah ke Jakarta, nggak punya kendaraan. Saya kerja di Jakarta Pusat dekat Statiun Gambir, kira2 yang bagusnya beli perumahan dimana ya. Yang rumahnya nggak lebih dari 250 juta.

  48. jasmine Says:

    pilihannya kalo gak tangerang yah bekasi. personally saya prefer tangerang, karena pabriknya gak sebanyak kalo di bekasi. utk jelasnya silahkan pilih pilih sendiri di pamerah properti 31 agustus s/d 7 september di Jakarta Convention Center Senayan sana

  49. Khoe Seng Seng Says:

    Dibawah ini kronologi saya (Khoe Seng Seng) dalam kasus pidana (tulisan-tulisan saya sebelum ini dalam kasus perdata baik saya menggugat ataupun Sinar Mas Group mengguggat saya, dua kasus perdata ini dua-duanya saya kalah, dalam posisi saya menggugat gugatan saya ditolak dalam posisi tergugat saya dihukum membayar satu miliar, kedua perkara saya tersebut ditangani satu Majelis Hakim yaitu Nelson Samosir, Mawardi dan Daliun Sailan), saya hanya membagi pengalaman nyata saya dengan perusahaan multi internasional Sinar Mas Group kepada segenap pembaca dan tulisan saya dibawah ini semua kisah nyata konsumen mencari keadilan.

    Kronologis Pembelian kios saya sampai saya dilaporkan ke polisi dan menjadi tahanan kejaksaan tinggi.

    Pada tahun 1990 PT Duta Pertiwi Tbk membangun dan menjual kios-kios di ITC Mangga Dua dengan status strata title (Hak Milik Satuan Rumah Susun/HMSRS) dengan status tanah adalah Hak Guna Bangunan (HGB).

    PT Duta Pertiwi Tbk menjual ini dengan memberikan konsumennya Faktur Pajak Sederhana yang menerangkan pembayaran atas tanah dan pembayaran atas bangunan serta pembayaran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas tanah dan PPN atas Bangunan. Hampir semua konsumen menerima Faktur Pajak Sederhana ini.

    Pada tahun 2001 Pemerintahan Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengeluarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta no 122 tentang Tata Cara Pemberian Rekomendasi Atas Permohonan Sesuatu Hak Diatas Bidang Tanah Hak Pengelolaan, Tanah Desa dan Tanah Eks Kota Praja Milik /Dikuasai Pemerintah Propinsi DKI Jakarta.

    Isi SK Gubernur ini salah satunya mengenai uang pemasukan ke pemerintahan daerah (Bab V pasal 7 yaitu untuk uang pemasukkan dari biaya rekomendasi perpanjangan, peralihan/pengoperan HGB diatas tanah Hak Pengelolaan / HPL).

    Pada tahun 2003 saya membeli sebuah HMSRS ITC Mangga Dua di lantai 2 blok B no 42 melalui lelang Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). HMSRS ini adalah kepunyaan PT Bank Bumiraya Utama (bank memperoleh dari Lim Bui Min) dimana bank ini akhirnya dilikuidasi dan semua asetnya dikuasai oleh BPPN yang kemudian dijual pada lelang Program Penjualan Aset Properti (PPAP) tahap 2.

    Segala biaya yang timbul dari pembelian ini ditanggung pemenang aset. Saya membayar Bea Perolehan Hak Atas Tanah (BPHTB), PPh penjual, biaya denda dari Jakarta Sinar Intertrade (pengelola gedung ITC Mangga Dua), biaya Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) meliputi pembuatan Akta jual beli, pencabutan hak roya, biaya pengalihan nama dan jasa PPAT.

    Pada waktu saya membeli HMSRS ini tidak pernah saya membayar biaya rekomendasi seperti yang diatur pada SK Gubernur no 122 tentang uang pemasukkan. Jadi status sertifikat HMSRS saya disini jelas adalah HGB murni. Di dalam sertifikat HMSRS ini tercantum tiga nama PPAT yaitu Arikanti Natakusuma, Sugiri Kadarisman dan Mardijono. Ketiga PPAT ini tidak tahu bahwa tanah ITC Mangga Dua adalah milik Pemprov DKI Jakarta karena mereka tidak melihat dan tidak pernah diberitahu oleh BPN bahwa tanah ini berstatus HGB diatas HPL. Menurut saya BPN juga tidak tahu ini HPL sampai bulan Maret 2006 karena disamping saya tidak membayar biaya HPL yang mana seharusnya BPN meminta saya untuk membayar terlebih dahulu biaya peralihan ini sebelum saya bisa mengalihkan ke atas nama saya juga ada transaksi di bulan Maret 2006 dimana peralihan hak juga tidak diminta membayar biaya rekomendasi peralihan hak ini.

    Pada tanggal 4 September 2006 saya dikirimkan edaran mengenai perpanjangan HGB ITC Mangga Dua didalam edaran ini dicantumkan saya mesti membayar biaya HGB dan biaya HPL. Saya sangat terkejut kenapa ada biaya HPL ini karena tidak ada satupun petunjuk bahwa HMSRS saya berdiri diatas HPL. Kemudian saya minta ketemu dan bicara dengan yang mengeluarkan edaran ini yang mengaku sebagai ketua Perhimpunan Penghuni Rumah Susun (PPRS) ITC Mangga Dua.

    Pertemuan ini terjadi pada tanggal 5 September 2006 di kios/HMSRS saya. Saya kemudian menanyakan tentang HPL ini dan menanyakan di dokumen yang mana yang saya miliki yang menerangkan bahwa tanah ITC Mangga Dua milik (dalam penguasaan) Pemprov DKI Jakarta. Dokumen yang saya miliki terdiri dari Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Akta Jual Beli (AJB) dan sertifikat HMSRS. Orang yang mengaku sebagai ketua PPRS ini tidak bisa menunjukkan pada saya mengenai HPL ini tapi orang ini tetap memaksakan kehendaknya untuk memaksa saya mengakui HPL ini. Saya tetap tidak mau menerima dan pembicaraan kami hentikan tanpa titik temu (pembicaraan ini sekitar 2 jam). Orang ini adalah kuasa dari PT Duta Pertiwi Tbk yaitu saudara Hasnawi Thamrin SH.

    Kemudian pada tanggal 11 September 2006 diadakan rapat umum luar biasa yang kedua karena rapat umum luar biasa yang pertama tidak mencapai kourum. Agenda rapat ini ada tiga yaitu pertanggungjawaban laporan keuangan, perpanjangan HGB diatas HPL dan pengesahan ketua PPRS ITC Mangga Dua.

    Disini para pemilik HMSRS dipaksakan untuk mengakui ITC Mangga Dua adalah HPL Pemprov DKI Jakarta dimana dalam rapat ini pejabat BPN yang didatangkan PT Duta Pertiwi Tbk bapak Iing Sodikin menyatakan kenapa kami mau membeli kucing dalam karung kalau dia (Iing Sodikin) akan mengecek dulu.

    Dalam rapat ini kemudian para pemilik kios/HMSRS asli kemudian keluar ruangan dan tidak mau mengakui apapun putusan yang dibuat dalam rapat ini dan yang tinggal adalah orang-orang dari PT duta Pertiwi Tbk (Sinar Mas Group).

    Tidak ada seorangpun dari pemilik HMSRS mau mengakui HPL ini dan hanya PT Duta Pertiwi Tbk ini sajalah yang mempunyai kepentingan untuk mengakui HPL ini karena dengan diakui HPL ini terbebaslah PT Duta Pertiwi Tbk dari tanggungjawab terhadap apa yang dijual semenjak dari awal dimana PT Duta Pertiwi Tbk pada waktu pertama kali menjual berani mengeluarkan Faktur Pajak Sederhana yang menerangkan penjualan tanah dan bangunan serta pembayaran PPN atas tanah dan PPN atas bangunan. Juga didalam AJB jelas tercantum obyek jual belinya yang meliputi TANAH BERSAMA.

    Beberapa hari setelah rapat ini saya membuat sebuah surat pembaca yang isinya menceritakan ketidakjujuran dari PT Duta Pertiwi Tbk selama 18 tahun karena tanah tempat berdirinya gedung ITC Mangga Dua baru diketahui milik Pemprov DKI Jakarta

    setelah 18 tahun ketika akan memperpanjang HGB ITC Mangga Dua serta saya mempertanyakan siapa yang harus bertanggung jawab atas kasus ini (Pemprov DKI Jakarta, BPN atau PT Duta Pertiwi Tbk?). Surat pembaca saya ini terbit di harian Kompas pada tanggal 26 September 2006 dengan judul ‘Duta Pertiwi Bohong’. Surat Pembaca ini kemudian dijawab oleh GM Legal PT Duta Periwi Tbk, Suyono Sanjaya yang menyatakan bahwa memang sudah sejak dari awal ITC mangga Dua adalah HPL Pemprov DKI Jakarta dengan judul ‘Status HGB di Atas HPL’.

    Pada tanggal 21 September 2006 Kuasa PT Duta Pertiwi Tbk yang sengaja didudukkan sebagai Ketua PPRS ITC mangga dua mengeluarkan edaran ancaman yang akan mendenda kami Rp 100.000/hari jika kami terlambat membayar perpanjangan HPL Pemprov DKI Jakarta (lewat dari 31 Oktober 2006).

    Pada tanggal 27 September 2006 Bapak Johannes Ginting kemudian melaporkan kasus perubahan status tanah ini ke Polda Metro jaya dan saya sebagai saksi pelapor. Laporan ini dinyatakan kasus dugaan penipuan oleh yang menerima pengaduan kami.

    Pada tanggal 15 November 2006 kemudian saya melaporkan sendiri kasus tanah ini dan dibuatkan laporannya sebagai laporan dugaan penipuan pula.

    Pada tanggal 21 November 2006 tulisan saya yang saya kirimkan ke Suara Pembaruan untuk kolom surat pembaca terbit. Isinya menceritakan denda Rp 100.000/hari oleh kaki tangan PT Duta Pertiwi Tbk yang didudukan sebagai ketua PPRS ITC Mangga Dua dimana saya katakana PT Duta Pertiwi Tbk ingin lepas tanggung jawab terhadap kasus ini dengan memaksa pemilik HMSRS cepat cepat membayar HPL ini jadi otomatis kami mengakui ITC Mangga Dua HPL Pemprov DKI Jakarta. Di akhir tulisan saya meminta bantuan penjelasan BPN mengenai pembayaran HPL ini dan saya menanyakan apakah pemikiran saya mengenai penipuan ini benar. Tulisan Surat Pembaca saya ini kemudian dibantah pada harian yang sama pada tanggal 6 Desember 2006 oleh induk perusahaan PT Duta Pertiwi Tbk dengan judul ‘PT Duta Pertiwi Tbk Tidak Menipu’. Yang membatah Dhony Rahajoe (Corporate Communication General Manager Sinarmas Developer & Real Estate). Saya bicara dengan anaknya yang keluar menjawab bapaknya.

    Akibat dari 2 surat pembaca saya ini kemudian saya dilaporkan ke Mabes Polri pada tanggal 24 November 2006 dengan tuduhan pasal penghinaan, pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan (pasal 310, 311 dan 335 KUHP). Pelapornya Dourmali Limbong yang tidak saya kenal pada saat itu yang belakangan saya tahu Dourmali Limbong ini adalah kuasa hukum dari PT Duta Pertiwi Tbk.

    Saya kemudian dikirimkan surat panggilan pada tanggal 18 Desember 2006 dimana saya disuruh menghadap pada tanggal 5 Januari 2007. Nomor panggilan saya adalah No.Pol : S.Pgl/1422-DP/XII/2006/Dit.1. Saya diminta menghadap ke penyidik AKBP Iolani SH dan yang memanggil saya adalah AKBP Drs Rio Permana S. Saya dipanggil disini sebagai tersangka langsung (asas praduga tidak bersalah tidak berlaku buat saya karena saya tidak pernah diperiksa sebagai saksi terlebih dahulu seperti seseorang jika ingin dituduhkan sebagai pembunuh sebelum terbukti pasti dipanggil terlebih dahulu sebagai saksi, hal ini tidak pernah terjadi pada saya). Saya menghadap penyidik pada tanggal 15 Januari 2007 untuk diperiksa. Penyidikkan terhadap saya kemudian diserahkan pada ibu Ely rekan dari ibu Iolani dimana pada tanggal 15 Januari 2007 kebetulan ibu Iolani berhalangan. Ibu Ely sebelum menyidik saya sudah menerangkan bahwa dia akan menyidik secara proporsional.

    Kurang lebih tiga bulan setelah saya disidik dua rekan saya yang juga dipanggil sebagai tersangka (dikenakan pasal yang sama seperti saya) atas tulisan surat pembaca mereka di harian Suara Pembaruan dengan judul ‘Hati-hati membeli property PT Duta Pertiwi Tbk’ (ibu Kwee Meng Luan/Winny) dan Warta Kota dengan judul ‘Hati-hati Terhadap Modus Operandi Penipuan PT Duta Pertiwi Tbk’ (ibu Fifi Tanang) yang disidik juga oleh Ibu Iolani (Winny dan Fifi Tanang lebih dulu disidik dari saya) mendatangi Mabes Polri untuk menanyakan kelanjutan kasus mereka. Ternyata penyidik ibu Iolani mengatakan bahwa penyidik sudah mengudurkan diri dari penyidikan ini dan berkas mereka dikembalikan kepada pemanggil bapak Drs Rio Permana S. Ibu Iolani mempersilahkan dua teman saya ini untuk menanyakan sendiri ke bapak Drs Rio Permana S. kemudian kedua teman saya ini mendatangi Bapak Rio Permana S dan menanyakan kasus mereka bapak Rio Permana ini malah balik bertanya kok kami sebagai tersangka berani menanyakan kelanjutan kasus ini dimana yang seharusnya menanyakan kasus adalah pelapor bukan tersangka katanya, apa kalian berdua ingin cepat-cepat diproses kasus kalian tannyanya. Kedua teman saya terdiam dan akhirnya kembali pulang tanpa kejelasan kasusnya. Semua ini saya ketahui dari cerita kedua teman saya yang datang ke Mabes Polri. Pada waktu itu saya tidak ikut ke Mabes Polri.

    Pada tanggal 27 April 2007 saya membuat laporan pengaduan ke Dewan Pers berkenaan dengan dilaporkannya saya sebagai tersangka di Mabes Polri atas dua buah surat pembaca saya. Dan kemudian Dewan Pers menindak lanjuti laporan saya dengan mengirimkan surat ke Kapolri perihal peninjauan penetapan saya sebagai tersangka karena tulisan surat pembaca pada tanggal 8 Juni 2007.

    Pada tanggal 18 Juli 2007 saya diundang oleh Dewan Pers untuk acara talk show yang diadakan Dewan Pers di TVRI dengan tema mengenai Surat Pembaca.

    Kegelisahan saya terhadap kasus saya di Mabes Polri ini membuat saya pada tanggal 12 September 2007 mengirimkan surat ke bapak Bambang Hendarso (Pimpinan Bareskrim Mabes Polri) untuk mohon penghentian penyidikan. Pada tanggal 14 September 2007 saya juga mengirimkan pengaduan ke Komisi Kepolisian Nasional.

    Sekitar tiga minggu setelah saya mengirimkan surat ke Mabes Polri saya menanyakan ke Bareskrim Mabes Polri ternyata surat yang saya masukan hilang di Mabes Polri dan saya disuruh membuat surat lagi. Kemudian saya membuat surat dan saya kembali mengantar sendiri surat tersebut ke Kabareskrim Mabes Polri. Disana saya mendapat penjelasan bahwa kasus saya masih belum selesai karena pihak pelapor (PT Duta Pertiwi Tbk) dipanggil-panggil katanya tidak datang-datang. Saya kemudian diminta untuk menemui Wadir Reskrim’ Ketika saya menemui Wadir Reskrim, Wadir ini bertanya pada saya apa keberatan saya mengenai kasus saya ini. Pada saat itu saya binggung menjawab sebab saya datang kesana untuk menanyakan status saya kenapa sudah sekian lama tidak selesai-selesai kok saya malah ditanya keberatan apa saya pada saat itu karena saya memang tidak ditahan dan saya bebas kemana saya ingin pergi. Akhirnya saya pulang dengan tetap kondisi saya sebagai tersangka.

    Pada tanggal 14 November 2007 saya menerima surat pemberitahuan dari KOMPOLNAS yang menyatakan berkas saya sudah dikirim ke pihak Polri untuk ditindaklanjuti tapi sampai surat ini dikirim kan ke saya pihak Polri belum menanggapi dan Kompolnas akan mengabarkan ke saya jika ada perkembangan baru. Surat ini dikirimkan oleh anggota Kompolnas Bpk A. Pandu Praja. Walaupun belum berhasil membantu saya menyelesaikan kasus saya, saya sangat berterima kasih sekali atas perhatian dari pihak Kompolnas ini terutama buat bapak A. Pandu Praja yang dengan kesibukannya masih bersedia menerima dan mendengarkan keluhan saya pada waktu saya melaporkan kasus saya

    Pada tanggal 28 Januari 2008 saya coba kembali mengirim surat ke Kapolri memohon penghentian penyidikan saya di Mabes Polri tetapi tidak pernah ada kelanjutannya.

    Pada tanggal 18 Februari 2008 saya membaca artikel mengenai proses penyidikan dimana dikatakan kasus yang gampang penyidikannya 30 hari yang sedang 60 hari yang sulit 90 hari dan yang super sulit 120 hari yang disampaikan oleh bapak Bambang Hendarso (Kabareskrim Mabes Polri) sedang kasus saya ini sudah lebih dari setahun. Dengan dasar artikel ini beberapa hari kemudian saya membuat surat pembaca yang dimuat di Koran Tempo dan Majalah Tempo mengenai surat terbuka mohon penghentian penyidikan saya.

    Sungguh tidak saya duga surat pembaca yang dimuat di majalah Tempo edisi 25 Februari 2008 membawa malapetaka bagi saya. Saya pada tanggal 1 Maret 2008 menerima kembali panggilan dengan nomor panggilan No. Pol. : S.Pgl/214-DP/II/2008/Dit-1 dari Mabes Polri dengan status tetap sebagai Tersangka dan akan disidik kembali. Pada tanggal 11 Maret 2008 saya disidik. Saya pikir inilah penyidikan terakhir dan kasus saya akan dihentikan penyidikannya (SP3). Tapi sungguh tidak saya duga rupanya ini bukan penyidikan untuk menghentikan penyidikan tetapi penyidikan untuk menyatakan berkas saya sudah sempurna dan dilimpahkan ke Kejati.

    Akhirnya pada tanggal 5 September 2008 saya dipanggil kembali dengan nomor panggilan No.Pol. : S.Pgl/900-DP/IX/2008/Dit-1 untuk menghadap penyidik dimana kasus saya dinyatakan sudah lengkap oleh Kejati (P21) dan saya akan diserahkan/dihadapkan pada penuntut umum (Kejati DKI Jakarta) pada tanggal 9 September 2008. Akhirnya pada tanggal 9 September 2008 ini saya menghadap ke Kejati dan saya akhirnya ditahan dengan tahanan kota dimana setiap minggu saya harus melapor dua kali ke Kejati. Saya masih beruntung tidak ditahan karena terlihat Jaksa saya cukup baik yang bersedia menerima jaminan pengacara saya dari LBH Pers. Pengacara saya dari LBH Pers telah menjamin saya bahwa saya tidak akan melarikan diri. Hari ini tanggal 11 September 2008 adalah pertama kali saya melapor ke Kejati. Semoga keadilan masih ada dibumi tercinta ini. Saya sudah tiga kali dipukul jatuh ke kanvas tapi beruntung saya masih bisa bangun dan terus berusaha bertahan dari gempuran Sinar Mas Group. Pertama saya sudah dihajar telak dengan dihukumnya saya membayar 1 miliar, yang kedua adalah gugatan saya ditolak mentah-mentah oleh Majelis hakim yang sama yang telah menghukum saya untuk membayar satu miliar di PN Jakarta Utara dan pukulan ketiga adalah saya menjadi tahanan kota.

    Yang pasti saya tidak akan melarikan diri karena saya akan mengejar tanggung jawab dari Sinar Mas Goup atas penjualan propertinya yang tidak transparan dimana tanah yang dijual ternyata tanah milik Pemprov DKI Jakarta. Dan saya berharap pihak penegak hukum juga mencegah jangan sampai Direksi dan Komisaris PT Duta Pertiwi Tbk (Sinar Mas Group) keluar negeri karena Sinar Mas Group lah yang memulai kekisruhan yang sekarang terjadi di area Mangga Dua yang meliputi lahan sekitar 30 hektar (saya takut Direksi dan Komisaris PT duta Pertiwi Tbk melarikan diri karena mereka mempunyai kekuatan finansial yang bisa mendukung pelarian mereka dibandingkan dengan saya yang hanya mencari sesuap nasi untuk bertahan hidup)

  50. Mr Shock Says:

    Panjang banget pak Aseng,.. bacanya banyak yang di skip,… baca juga percuma, ngak gitu ngerti hukum…

    Anyway,… prihatin memang…. anda seperti membenturkan diri ke gajah ( melawan duta pertiwi ).

    Saya sempat dengar2 juga kasus ITC mangga dua, tapi dengarnya udah beberapa tahun yang lalu.
    cerita persisnya gimana yah pak…
    ITC itu dibangun 20 tahun yang lalu, trus skarang HGB udah habis, dan tidak bisa diperpanjang,..gitu ?,…bukannya sertifikat ITC itu strata title ?
    trus bedanya strata title, HGB, HPL, perbedaan kekuatan hukumnya itu dimana ?
    Apakah maksud anda, tanah milik pemprov, dan gedung ITC itu akan diambil alih oleh pemda ? dan pemilik toko disana akan terusir dan tidak mendapatkan apa2 ?…
    setahu saya, beberapa tahun yang lalu, jika ada yang mau membeli toko disana bisa kredit di BII (salah satu anak perusahaannya juga)….
    kalo memang bisa di anggunkan ke bank, harusnya sertifikat tidak bermasalah dong ?,…..

    Saya juga pernah dulu membeli property dari mereka, tepatnya di ITC cempaka mas,…
    tahun 2002 atau 2003, agak lupa, sekitar tahun gitulah, waktu itu baru selesai bangun.
    waktu itu beli 2 kios, kalo ngak salah sekitar 1 M termasuk “uang hangus”. kalo tidak salah ingat…
    saya beli karna waktu itu ada teman yang juga beli, kalo dia memang investor, dia beli belasan toko,.

    kejadian setelah beberapa bulan beli, saya dikirim surat supaya kios itu harus dibuka, jika tidak akan didenda, (beberapa juta sebulan, saya lupa)..
    saya cuekin juga, gimana buka toko,.. di sewain ngak laku, bingung juga, kalo buka mau jual apa,…bingung,..
    akhirnya ngak dibuka, kemudian saya meminta makelar untuk menjual, pusing mikirin.
    singkat cerita,.. kios itu terjual setelah hampir 6 bulan (dengan harga lebih murah sedikit dibanding saya beli pertama,).

    Pada saat jual, orang yg in charge disana tidak mau tandatangan AJB, katanya saya harus membayar denda dulu.. yang 6 bulan tidak buka,..waktu itu karyawan saya yang urus,..dan saya dikasih tahu tidak bisa jual…agak sewot juga saya,…
    trus saya nanya teman saya yang punya banyak, dan saya yakin dia juga tidak buka, gimana bisa buka dengan belasan toko….
    akhirnya,… saya ketemu sama orang itu, saya nanya apa semua yang ngak buka itu juga akan didenda ? saya bilang tidak masalah kalo memang harus bayar karna di perjanjian memang tertulis demikian, (waktu beli tidak dikasih tahu ada perjanjian spt itu) karna saya memang awam dengan hal begituan, tapi kalo suatu hari saya bisa membuktikan bahwa yang lain tidak bayar, maka saya akan menuduh anda kolusi, karna saya yakin banyak yg beli untuk disimpan, waktu itu kantornya di ITC mangga dua,.. akhirnya dia tandatangani dengan perjanjian orang yang beli itu harus membuka toko tsb. syukur pembeli mau tandatangan perjanjian itu,..kalo tidak, bingung deh gua….
    akhirnya terjual tanpa masalah,…semenjak itu,..yang namanya beli kios di proyek,… ntar dulu deh, …udah trauma….pusing….

    kalo tidak salah ingat, denda 1 bulan 5 juta, kalo 2 toko kali 6 bulan berarti 60 juta

  51. arofanatics Says:

    gw iba sm mreka2 yg haknya dirampas pakca…

    btw klo gw 3 thn lalu pernah meeting sm GM marketing ITC berkedudukan d slh satu ruko manggadua, biasa ngikutin bos gw…bagian pegang ballpoint, senyum2 n minum teh

    wkt itu dlm obrolan sang gm blng mmg sebagian besar lahan ITC bekerja sm dgn pemprov DKI, terutama yg lokasi2nya sgt strategis…

    pd saat itu pemprov py bbrp tempat bekas pool PPD maupun bekas terminal, yg uda dikuasai pemprov dki, krn PPD bangkrut dan terminal kena jalur hijau…

    diantaranya:
    x-Pool fatmawati-skrg jd ITC fatmawati,
    x-terminal cililitan-skrg jd PGC..
    x-terminal pasar jumat jadi Poins Square(dlm tahap pembangunan wkt itu)

    doi blng kerjasama ini sgt menguntungkan krn SMG ga perlu ngluarin duit besar utk invest k tanah…cukup bangun gedung n bayar sewa tanah…smua urusan tetek bengek pertanahan terjamin o/ pemprov dki.
    mana lagi bangunan blum selesai rata2 kios uda ludes terjual…cepet balik modalnya, dn bisa bt bikin tempat baru lg…itu krn nama baik SMG katenye, jaminan mutu slalu berhasil dlm bgn sentra business grosir…

    tp klo liat skrg, terlbh2 mendengar n mlihat byk org di gugat yg notabene konsumen setia SMG sendiri whuaalaahhh….
    gw ga abis pikir mreka2 pengusaha & petinggi negara apa ga slh tu: demi mencapai keuntungan besar dn cepet balik modal, tega2nya mengelabui konsumen pedagang…

    apalagi aparat pemprov…itu jalur hijau bs buat gedong2
    mreka yg gusur, mreka yg bikin aneh2 skrg…

    gak kebanyang bbrp puluh tahun kedepan klo gubernurnya py visi lain…pas habis masa kontrak bisa2 digusur tu ITC 2, bs balik jd jalur hijau lg…ato apa kek…
    klo gini konsumen ktipu 2x….damn sapa tanggung jawab!!!!

  52. mas yanto Says:

    yah buat pelajaran untuk semuanya agar hati-hati sebelum membeli properti baik itu tanah, tanah kavling, rumah, KPR/BTN, ruko, dll.. cari tahu status tanah dengan jelas, minta lihat foto kopi sertifikat (klo untuk melihat sertifikat aslinya gak bisa)..

    teman saya juga pernah ketipu dalam jual beli tanah kavling (bukan dr Sinar Mas group sich).. dari sales pemasaran cuma ngumpulin orang yg minat, trus di bawa dan ditunjukin letak tanahnya.. lalu balik ke kantor pemasaran untuk ngurus akad kredit.. ternyata cuma akal2an, stelah DP dibayar gak ada kelanjutan dr pihak pemasaran tanah kavling (utk perumahan) tsb. kantornya tiba2 kosong, tanahnya milik orang lain (bukan tanah milik PT tersebut)..
    akhir ujung2nya lapor polisi dech

  53. iwan Says:

    Pengalaman saya selama 6 bln tinggal di BSD cukup nyaman.Kantor saya di semanggi, berangkat kerja jam 6.20 pake Kereta Sudirman Express sampe kantor jam 6.55. Pulang kerja by kereta lg jam 16.15 dan jam 17.15 udah sampai di rmh. Jd berangkat kerja udah terang dan pulang kerja msh terang juga… Ternyata pakai kereta adalah solusi tepat dan cepat …

  54. Iseng Iseng Tanya Says:

    Kerja dimana Mas jam 16.15 dah pulang…? Enak bener…

  55. Melly Says:

    Kalau boleh kasih masukan bagi temen2 yang ingin cari rumah diantara Bintaro dan BSD dengan harga yang relatif terjangkau untuk alternatif boleh coba lihat2 di Graha Raya (Unit pengembangan dari Bintaro Jaya) Perumahan ini masih dibawah bendera PT Jaya Real Property Tbk

    Dari segi Harga Jauh lebih murah dari Bintaro Jaya ataupun BSD
    Dari segi lokasi Graha Raya lebih strategis, utk menuju ke Perumahan ini kita bisa melalui beberapa akses bisa melewati Bintaro Jaya Sektor 9, Dari Ciledug, atau dari Jl Bhayangkara-Serpong
    Dari segi pilihan type rumah lumayan banyak pilihan krn sekarang saja sudah ada kurang lebih 9 Cluster yang sudah dibangun dan masih ada beberapa Cluster lagi yg masih on progres
    Dan utk Fasilitas ya lumayan lah…sudah ada Sport Center yg didalamnya ada Kolam renang semi Olympic, Mini water park, Lap Bulu Tangkis Indoor, Lap Tennis.
    Untuk Fasum spt Jalan Boulevardnya cukup besar dan jalan lingkungan perumahaannya juga terjaga dengan baik
    Yang pasti Perumahan ini bebas banjir

    Untuk temen2 yang mau tau lebih banyak lagi tentang Perumahan ini bisa hubungi saya di mells_property@yahoo.com saya akan dengan senang hati membantu karena kebetulan saya mantan marketing inhouse Graha Raya.
    dan saat ini saya masih tinggal di Cluster Fedora – Graha Raya.

  56. Hemu Hemu Says:

    wah asyik tuh kayak mas iwan. BSD-nya di mana mas? Rencananya saya mau pindah ke bsd. Soalnya sekarang saya tinggal di depok masih numpang ortu. Padahal di depok udah enak, ke kantor di mega kuningan pake kereta juga. kereta berangkat 5.45 nyampe kantor 6.30. Pulang 16.05 nyampe rumah 16.30.

  57. pengamat Says:

    denger denger graha raya dan alam sutera akan dilewati JORR 2
    teliti sebelum membeli

  58. uhuiii Says:

    dilewati JORR 2 kalo cuma lewat ya gpp (bukan menggusur), malah ada untungnya kalo dibuatkan pintu tol di gerbang perumahan…..
    di Graha Raya kalo naik angkot apa sudah tersedia??? jurusan kemana saja angkotnya

  59. Rolita Nasudin Says:

    Pembangunan Sirkuit Lippo Village, sejak awal tidak didasari pertimbangan yang matang dan perencanaan yang mendetail. Begitu banyak kemacetan, ketidaknyamanan yang dirasakan oleh warga Lippo Village dan sekitar. Jalan-jalan yang ditutup serta dialihkan, lahan parkir ditiadakan, pembongkaran jalan dan tempat bisnis yang semuanya mengakibatkan kemacetan di seluruh akses masuk dan keluar Lippo Village. Hal ini memuncak di saat event berlangsung tanggal 6-8 Februari 2009, warga merasakan macet total selama 1,5 – 3 jam untuk menempuh jalan yang biasanya hanya memerlukan waktu 15-25 menit.

    Sekolah yang berada di dalam Lippo Village sampai harus diliburkan untuk menghindari kemacetan pada saat acara pembukaan. Pelaku bisnis di area ini pun merasakan imbasnya, omset menurun lebih dari 50% karena minimnya area parkir dan kemacetan dimana – mana sejak awal pembangunan sirkuit ini. Tidak ada lagi keindahan dan kenyamanan, kami seperti tinggal di dalam area kebun binatang dengan begitu banyaknya beton – beton pembatas dan pagar – pagar pembatas yang sangat tinggi.

    Dan ini akan terus berlangsung entah sampai kapan! Setiap keluh kesah dan komplain warga hanya ditampung. Apakah warga akan terus merasakan ketidaknyamanan ini? Apakah manajemen Sirkuit Lippo Village memikirkan semua aspek dari sudut pandang warga dalam perencanaannya? Hal ini seharusnya merupakan pekerjaan rumah mereka sebelum merencanakan event-event berikutnya, terlebih yang berkelas international seperti A1.

    Rolita Nasudin
    Taman cendana golf, jl. Beringin Golf No. 6 Lippo Village
    Tangerang

  60. refly Says:

    Cibubur!!!cibubur!!! Dijual Rumah type LT.90M2/LB.90M2 (hook),3 kamar tidur, 1 kamar mandi,1 ruang makan, 1 ruang tamu, 1 kios (2,5m2 x 2,5m2),Sekolah SD hanya berjarak 10 m, 400m dari Plasa Cibubur(komp kranggan permai),dijamin tdk banjir,Daerah berkembang.
    Specifikasi:
    beton bertulang, keramik 30×30, Jet pum, listrik 900watt, harga Rp 450 jt (nego)hub:081213070210 (pemilik langsung)

  61. jade Says:

    hello semua, saya sedang mengadakan penelitian tentang rumah tinggal. Yang saya ingin ketahui adalah faktor-faktor penting apakah yang dipilih penghuni untuk menentukan hunian. Kalau ada yang bersedia membantu, saya akan mengirimkan email berupa kuisioner….thanks.
    Kalau ada yang berminat membantu, bisa mengemail saya ke:gk_lng@hotmail.com

    • rudi Says:

      1. kedekatannya sama jalan tol
      2. faktor kenyamanan
      3. dekat dengan keramaian bisnis
      4. akses ke jakarta
      5. prospek pelebaran jalan
      6. faktor prestige
      7. seberapa tinggi harga sewa/jual nya
      8. tarif tol / rata rata liter bensin yg dihabiskan utk tol (faktor cost tol dan bbm)

    • shamrock Says:

      1. keamanan
      2. kenyamanan
      3. waktu tempuh ke lokasi penting (kerja, emergency/RS, sosial/belanja/ibadh)
      4. harga
      5. operasional harian/bulanan

  62. Seca Says:

    Mohon petunjuk dari sesepuh disini.
    Untuk punya rumah di jakarta kayaknya gak sanggup dech, Saya berkeinginan punya rumah/investasi di BSD or Binjay.
    Dengan latar belakang: msh singele 23 thn, kerja didaerah kebon jeruk. Dengan penghasilan +/- 7jt,
    Klo untuk KPR di BSD atw BinJay cocoknya yang tipe apa yach? Dan sistem cicilannya bagaimana?
    Maklum masih awam nih di jakarta.

    Tks.

  63. triagung Says:

    Sejauh ini kesimpulan saya 50:50. BSD dan Binjay sama-sama oke 😀

  64. ari Says:

    Pilih BSD City! Bintaro kebanjiran teru sekarang. Kurang aman krn berdampingan dgn rumah penduduk. Cluster bsd city jauh lebih aman. BSD city segera jd pusat pendidikan, ada kampus Prasetya Mulya, Atmajaya, SGU, dan byk lainnya menyusul. Multinational company Unilever akhir 2011 bakal pindah juga ke sini. Sekolah nasional plus dan international banyak. Ada ITC, Teras Kota. Dekat the Icon sdg dibangun transportation centre/terpadu, ada stasiun kereta sendiri plus shuttle bus di satu tempat. Buat Investasi sangat menjanjikan. Puji Tuhan sih sebelum beli di bsd city udah punya rumah di kota wisata cibubur (Sinar Mas) tidak bermasalah dan sangat puas dengan manajemen pengelolaannya.

  65. doni Says:

    Sudah 2 tahun saya tinggal di bsd, kelebihan bsd :
    1. Jalan protokol lebar
    2. Eka Hospital, Blitz megaplex, Giant terbesar di jabotabek
    3. akses bandara dekat .
    4. Kereta api Listrik dan bus Trans BSD ( BSD – Jl Sudirman jkt)
    Dan ini paling utama melihat kemacetan yg sangat parah , bila masih menggunakan mobil pribadi di JKt.

  66. satria Says:

    Memang luar biasa . cuma sangat sayangkan pihak PT. BSD tidak membayar kepada pemilik alas hak tanah tersebut , tidak bedanya dengan Maling aset yg berkedok tertib hukum
    dan ini bahasa bagi bangsa
    ttd

    satria

  67. apandi Says:

    bintaro lbih enak soal’y dkt wilayah jkrta

  68. apandi Says:

    bintaro jaya good city

  69. apandi Says:

    bsd macet mllu

  70. Trihadi Says:

    Saat ini…..akhir th 2011….BSD lebih baik, tata kota dan infrastructure baik jalan, taman dll lebih terkordinir. Binjay berkembangnya perlahan jadi perencanaan dan tatakotanya terpecah2.
    BSD dijadikan kantor utama utk wilayah sekitarnya seperti BCA, BNI, BJB. BSD juga ditunjuk beberapa perusahaan besar utk membangun kantor pusatnya seperti Unilever, Sinar Mas, Freeport dll.
    Harga bangunan di BSD juga naik sangat cepat dan rata2nya sudah melewati harga rumah di Binjay yg sekitar 3 atau 4 tahun lalu harga di BSD masih dibawah Binjay.
    Masalah di BSD adalah daerah pendukung spt jln Serpong Raya yg ruas jalannya lebih kecil dari wilayah BSD, jadi kearah tangerang hampir selalu macet. memang jalan pendukung dari BSD tahap 2 ke Gading Serpong sudah jadi cuma masih belum beroperasi maksimal.
    Sekedar bocoran yg mau investasi….coba check perumahan Bumi Pupistek Asri, lokasi sekarang di belakang Univ Prasetya Mulya, sekitar 3 atau 4 th kedepan, lokasi ini akan berada ditengah2 BSD city. Harga rumah masih sangat murah tapi kondisi memang tidak bagus. Akses dari BSD tdk akan dipersulit karena komplex ini berdempetan dgn kecamatan Pagedangan dan sejalan dgn Polsek yg dibangun BSD sendiri.
    Kalo mau cari rumah disana, search aja di google “jual rumah Bumi Puspiptek Asri Pagedangan”…….knapa rumah daerah sini bisa murah…….dulu komplek ini dibangun Puspiptek jamannya P Habibie, karena akan ada perluasan BSD ke arah wilayah perumahan tsb maka banyak infrastruktur yg tdk dibangun sebelumnya spt BTS, penerangan jalan, telkom serta akses jalan agar harga tanah tersebut jadi murah…….Tapi untuk komplex puspiptek aman, semua surat di perumahan tsb sudah sertifikat hak milik, ada sekitar 8000 rumah dalam komplex………..yg tertarik selamat mencari………
    kalo mau saran saya soal perumahan tsb bisa mail ke trihadi_p@live.com

  71. Adnan Zain Says:

    Ributin peringkat apa sih ?
    Pringkat sebagai tools untuk mencari peminat untuk beli. Ada faktor yang tidak bisa di bentuk /sulit.
    Faktor keamanan mau dimana pun tetap, premanisme berkedok ormas selalu ada. Kuli serbu Bintaro tidak kalah sigap.
    Banjir hehe apa lagi meski semata kaki sampe yg sepinggang pun ada (pintu gerbang nya saja looo juga ada di binjay).
    Maling sepeda heheh apa lagi (kalau menurut kate orang nih) penduduk kampung kurang di rangkul. Kebetulan tetangga komplek seberang nulis keluh kesahnya, saya kutip dari kompas.
    http://www1.kompas.com/suratpembaca/read/30766
    Anak tanggung berkeliaran di depan komplek kalau senja mereka bawa cat semprot tembok lah jadi sasaran.
    Dan kejadian hangat tadi sore 14 Oktober 2012 pukul 16:40an anak kecil perempuan melempar batu krikil ke mobil saya dari atas jembatan penyeberangan jalanan yg menuju fly over ke Discovery / emerald. Jalanan tersebut sebagai tempat nongkrong anak muda. Kalau di tanya ke orang tua nya paling “namanya juga anak kecil, maklumin saja”. Ada faktor sosial di lingkungan sekitar yang tidak bisa di pungkiri ekses negatif dari perkembangan di bintaro.
    Mau mengadu kemana? Hal ini tidak bisa di masukan sebagai benchmark juga kan?
    Untuk hal keamanan? paling di limpahkan ke ketua RT/RW. Apakah mereka mampu? tentu tidak . Keamanan di rekrut dari warga sekitar, jika ada maling. Apakah bisa pihak keamanan menangkap setahu saya di wilayah vania, adora sudah di lengkapi CCTV. Kebetulan saya tetangga komplek di Permata, penyakit sosialnya sama aja selain banjir di gerbang komplek.
    Seandainya komunitas (RT/RW) di bintaro bekerja sama lintas komplek memahami hal ini. Hehe nanti timbul ormas lagi berkedok penghuni bintaro.
    Haaah cape dan pusing juga ya jadi ketua RT/RW.

  72. DokłAdniejsze informacje znajdziesz tutaj Says:

    hiwach Royal Engineering Corps.
    Wagner kręcił nosem, powątpiewając w DokłAdniejsze informacje znajdziesz tutaj owo, co Angole są w stanie mieć
    pojęcie o trafnych
    amerykańskich minach. Wytyczne dezaktywacji, polegającej na zdalnym
    detonowaniu na poligonie, nazwał asekuranctwem jak również marnotrawstwem.
    Jednakże skrzynkę
    wyniósł, wprawdzie nie na reper, wręcz przeciwnie do drewnianej komórkowy na podwórzu, gdzie
    spoczęła u talerzowych min przeciwcz.

  73. Eyang Sulistiawan Sugeng Says:

    BSD city, memang OK. Cuma banyak tanah2 disitu yang gak hoki, auranya panas, bikin rejeki mampet.
    Kalau penghuninya wirasawasta, efek apesnya cepat terasa.

    Bintaro Jaya, juga OK. Tanahnya bagus, tinggal disitu bisa hoki. Asal jangan yang tusuk sate, atau bentuk trapesium dengan ukuran bgn depan lebih lebar.

    Masalah keamanan, cukup rawan.. banyak preman dibiarkan beraktifitas dikedua perumahan ini.
    Ditunggu setelah ada kejadian (yang dilaporkan) baru diproses hukum. Kalau belum kejadian atau tidak dilaporkan ya dibiarkan saja..

    Cuma BSD memang lebih sigap sedikit dalam membrantas preman. Kalau ada laporan, preman2 langsung diciduk tanpa ampun & belas kasihan.
    Salut buat BSD..

    Kalau Bintaro Jaya, terlalu baik hati, banyak pemakluman & malah cenderung membiarkan.
    Jadi malah warganya sendiri yang berani ambil tindakan tegas. Tabokin preman2 tsb.
    Salut buat para warga Bintaro Jaya yang pembrani.

    Kalau saya disuruh pilih tinggal dimana..
    Saya pilih BINTARO JAYA.
    Tanahnya Hoki, rejeki lancar.

  74. Rumah Kebaya Di Thamrin City - Tips Memilih Baju Kebaya Says:

    […] BSD City vs Bintaro Jaya – Bicararumah.com | Bicara rumah … – Kiabi Says: Oktober 8, 2007 pukul 7:25 am. Wah saya sanggupnya baru punya rumah di Depok. walau ngga ‘ngomplek’, tapi masih murah banget pajaknya, bangunan …… […]

  75. Beli Shawl Di Thamrin City - Pakaian Murah Ada Dimana Mana Says:

    […] BSD City vs Bintaro Jaya | Bicararumah.com – Rimar Says: Juli 28, 2007 pukul 1:51 pm. Anjar saya ikut nimbrung ya…dgn perspektif beda. Dulu saya tinggal di sektor 2 (pelikan) kurang lebih 3 tahun, pd saat itu …… […]

  76. Yandres Nggebu Says:

    Giant terbesar itu ada di Bintaro Jaya, bukan BSD makanya kantor pusat Hero dibangun di Bintaro Jaya, bukan saja terbesar tapi juga yang paling besart incomenya, Bintaro Jaya lebih dekat ke Jakarta, kalau bandingkan Binjay dan BSD perumahan yang lama dengan perumahan yang lama perumahan yang baru dengan yangbaru jalan2 sekarang di Bintaro Boulevard lebar2 ada RS Pondok Indah yangsuper keren.

  77. Yandres Nggebu Says:

    kalau dilihat kelasnya BSD dibawa satu level dari Bintaro Jaya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: