Town house atau perumahan di Pondok Cabe?

Nama saya Merry, sekarang saya & suami lagi ngalamin langsung nih suka dukanya hunting rumah. Lokasi tempat tinggal saya sekarang di Pamulang, dan berencana untuk mencari rumah dengan lokasi yang tidak terlalu jauh dari Pamulang (tapi lebih mendekati ke arah Lebak Bulus). Pilah pilah plih pilih, sepertinya daerah Pondok Cabe & Cirendeu jadi alternatif yang paling pas buat kami. Ada 2 lokasi yang sekarang jadi alternatif :

  1. Town house di Pondok Cabe (Griya Kirai) dengan harga Rp433.000.000 (55/145 m2) – DP 20%
  2. Perumahan di Pondok Cabe (Puri Cirendeu Permai) dengan harga Rp361.800.000 (85/110 m2) – DP 20%

Yang saya mau minta tolong ke Pak Anjar adalah hitung-hitungan untuk KPR dari 2 rumah ini. Perkiraan budget untuk cicilan adalah 3,5 juta per bulan, maunya sih KPR yang 15 tahun. Kira-kira KPR yang akan disetujui berapa ya Pak Anjar? Fyi, joint income saya & suami sekitar Rp7 juta per bulan. Kira2 ini akan jadi problem nggak ya, mengingat biasanya kan persyaratan cicilan 1/3 dari gaji…lha ini, maunya 1/2 dari gaji…;))

Ditunggu infonya ya Pak Anjar, maaf kalau merepotkan.

Komentar:
Dear Mba Merry, terimakasih emailnya ya. Teorinya dengan cicilan 3.5 juta selama 15 tahun dengan bunga 10% bisa mendapatkan pinjaman 325 juta dari bank (kalau bingung silahkan rumus KPRnya di download dulu). Kalau dilihat dari keuangan mba Merry tentunya menganggarkan 1/2 dari gaji itu tidak ada masalah, sayangnya bank umumnya menghitung 33%-40% dari gaji, walau ada saja beberapa bank (BRI misalnya) dan tergantung beberapa officer yang mau menaikkan limit hingga 50% dari gaji.

Saran saya:

1. Siapkan mental untuk mengambil kemungkinan terburuk, misalnya
– Bank hanya menyetujui cicilan 1/3 gaji
– Bunga dihitung tertinggi (misal 11%)
Dalam skenario terburuk ini Mba Merry harus bisa ‘menghitung’ rumah tipe mana yang bisa mba dapatkan.

2. Dari skenario terburuk (baca: aman), baru coba dihitung skenario paling baik untuk program KPR Mba Merry. Untuk mendapatkan skenario terbaik ini bisa jadi bernegoisasi dengan pihak bank (baik legal maupun ilegal) maupun dengan developer (asumsi keduanya rumah baru)

Oh ya Mbak Merry, mungkin mbak bisa sharing nama perumahan dan town housenya apa? untuk masukan bagi rekan2 yang lain

5 Tanggapan to “Town house atau perumahan di Pondok Cabe?”

  1. Ibud Says:

    Mbak Merry, bisa gak ditampilkan foto dan lokasi (map, denah, site plan) nya, saya juga baru hunting rumah disekitar situ…

    terima kasih

  2. Musadiq Marhaban Says:

    mautahu juga dong fotonya….

  3. Rudy Says:

    Mohon maaf yah pah anjar, saya kok kurang sreg baca sarannya untuk bernegosiasi secara legal maupun ilegal dengan pihak bank. Bagaimanapun sulitnya saya berharap kita mau belajar untuk melakukan cara2 legal dalam kehidupan kita.

    anjar: terimakasih Pak Rudy, kenyataannya di dunia KPR memang seperti itu pak. Dengan membayar 300ribu – 1 juta kepada petugas appraisal bank, kita bisa mendapatkan harga appraisal yang lebih tinggi. eg. tadinya rumah hanya ditaksir 200 juta, bisa di ‘upgrade’ menjadi 300 juta.

    Fakta dilapangan seperti itu, terkadang walaupun kita tidak menginginkan, oknum seringkali menawarkan terlebih dahulu kepada kita -apalagi orang broker, mereka pasti tahu betul angkanya berapa. Saya sendiri, alhamdulilah tidak pernah menerima tawaran oknum. informasi diatas sekedar pembanding bahwa praktek ‘ilegal’ seperti atas sudah umum terjadi.

  4. n0vri Says:

    Kalo boleh urun rembug, cobalah tetap konsisten untuk pake cara legal. Karena, cara legal dibuat agar kepentingan semua pihak terjaga, termasuk kepentingan calon debitur sendiri.
    Kalo nanti dengan cara illegal –apapun itu- berhasil, katakanlah berhasil membuat kemampuan bayar kita diupgrade jadi seolah-olah lebih besar, maka kelak bisa jadi bumerang bagi calon debitur sendiri. Ketika mau beli rumah, biasanya orang akan cenderung bersemangat, saking semangatnya, suka lupa ngitung secara detail, pokoknya rumah dapet dulu, yang lain, gimana nanti aja.
    Itu berbahaya, seringkali kebutuhan kita datang takterduga dan itu dikesampingkan ketika kita menghitung kemampuan bayar disaat mengajukan kredit. Nah, ketika kebutuhan itu dirasa sangat penting, terpaksa kita menunggak cicilan, akhirnya semua jadi repot; kita repot, bank juga repot.

    Perhitungan DBR dibuat agar debitur terhindar dari masalah di kemudian hari. Jadi sebaiknya kita tetap pake jalan legal ajalah…

    Kembali ke masalah utama, kenapa Mbak Merry gak coba KPR Fantastis nya Bank Panin? Kalo menurut apa yang saya baca di media, bahkan sebagian pinjaman bisa berupa pinjaman rekening koran (artinya cukup bayar bunga saja dulu dari dana terpakai), ada grace period sampai 2 tahun sebelum membayar pokok. Diharapkan, dalam dua tahun ke depan, penghasilan bisa membaik. Lengkapnya saya belum jelas, tapi ini model KPR baru dan cukup menarik.

  5. mo_cab Says:

    apAKAH bunga KPR bisa di nego setlah bbrp saat / tahun kita kita terikat kredit dengan bank? misal wakt u kontrak kita dapet bunga 11%, stlh bbrp bulan ternyata bank tsb menurunkan suku bunganya, trus kita nego dengan bank untuk mengikuti bungu tsb


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: